Tampilkan postingan dengan label Ocehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ocehan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Optimisme dari Belakang Zebra Cross

Gue adalah seorang pengendara motor, gue memanfaatkan roda dua ini untuk pergi kemana pun. Eh tapi gak bisa dibilang ‘kemana pun’ juga sih, soalnya dari tempat tidur ke kamar mandi kost gue kan gak perlu naik motor ya? Tapi untuk jarak yang cukup jauh, kayak pulang ke kampung, pergi ke kampus, mantan kampus, dan tempat-tempat lainnya, gue hampir selalu naik motor. Makanya gue hafal banget kelakuan pengendara yang menyebalkan, termasuk kelakuan berkendara gue sendiri.

Kelakuan pengendara yang tidak disiplin berlalu lintas adalah salah satu keresahan yang paling sering gue rasakan. Gue yakin kalian juga merasakan hal yang sama. Dan kita sepakat kalau situasi-situasi pada gambar dibawah ini harus segera lenyap dari lalu lintas di Indonesia:




Tapi beberapa hari kemarin, gue mengalami kejadian yang bikin gue tersenyum sendiri saat berada di belakang zebra cross.

Ditengah perjalanan gue dari Depok menuju Bogor, gue berhenti di sebuah perempatan yang kebetulan saat itu traffic light menunjukan lampu merah sedang menyala. Saat itu gue adalah pengendara pertama yang berhenti dan memutuskan untuk berhenti tepat di belakang zebra cross, karena gue tau dari guru TK bahwa zebra cross adalah tempat penyebrangan bagi pejalan kaki. Pengendara lain juga pasti tau, tapi merasa cukup hanya dengan tau saja. Dan gue juga pernah kesal ketika mau nyebrang melewati zebra cross, tapi zebra cross-nya terisi penuh oleh motor.

Setelah gue berhenti, ada pengendara motor lain yang juga berhenti, dia berhenti tepat di sebelah kanan gue, artinya dia juga berada di belakang zebra cross! Motor ketiga pun datang, dia menghentikan motornya sebelum menyentuh zebra cross! dan berada tepat di sebelah kiri gue. Motor ke-empat, ke-lima, ke-enam, seterusnya berdatangan dan tidak ada satu pun yang berhenti pada zebra cross atau bahkan melebihinya, tidak ada!

Padahal tiap kali gue berada di perempatan itu, gue sering melihat pengendara yang berada jauh di depan zebra cross demi menjadi yang terdepan menjalankan motornya ketika lampu hijau menyala.

Dibalik helm full-face, gue tersenyum, bukan karena bangga jadi orang pertama yang melakukan yang baik, tapi bangga karena ternyata kita bisa disiplin berlalu lintas!

Sering banget gue mendengar ocehan-ocehan orang yang bilang katanya:
“Kita nggak bisa tertib kalau berkendara!”
“Lalu lintas di Indonesia itu jauh banget sama di Singapore!”
“Melihat keadaan lalu lintas yang tertib di indonesia itu cuma mimpi.

Tapi saat itu, gue melihat sendiri bagaimana kita mentaati aturan dengan berhenti tidak melewati zebra cross.

Hal sepele sih memang. Tapi kebiasaan kita melanggar hal kecil membuat hal itu terlihat luar biasa ketika ada yang mentaati.

Dari kejadian itu gue yakin kalau lalu lintas yang aman dan lancar di Indonesia itu bisa tercipta.

Kita butuh orang-orang pertama yang melakukan hal baik. Kejadian tadi mungkin akan berbeda, kalo gue gak berhenti di belakang zebra cross. Begitu juga kalo orang kedua, ketiga dan seterusnya gak melakukan hal yang sama. Kita butuh orang-orang pertama yang melakukan hal baik, tapi tidak hanya satu orang. Kita butuh banyak orang yang melakukan hal baik untuk mempengaruhi banyak orang agar melakukan hal yang sama.

Banyak orang yang bisa menciptakan gerakan berawal dari keresahan.

Turun Tangan, adalah sebuah gerakan yang diinisiasi oleh Mas Anies Baswedan yang melihat anak muda Indonesia bisanya hanya mengeluh, padahal perubahan sebenarnya ada ditangan anak muda. Lalu, mendorong anak muda Indonesia untuk mencari solusi sendiri terhadap masalah yang ada di lingkungannya.

Young On Top, berawal dari keresahan Mas Billy Boen melihat anak muda yang biasa-biasa aja dan berpikir bahwa untuk sukses harus menunggu hingga mendapatkan ijazah. Hingga terciptalah sebuah buku yang berisi tools untuk sukses di usia muda dan program mentorship selama satu tahun, YOTCA.

Cewe Quat, berawal dari keresahan Mbak Bunga Mega yang melihat anak perempuan Indonesia yang loyo, seperti tidak ingin melanjutkan apa yang R.A Kartini capai untuk emansipasi mereka.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menciptakan lalu lintas yang tertib dan pengendara yang disiplin?

Sabtu, 08 Maret 2014

Akhirnya, rifaldifath.com!

Akh... hir... nya... *muterin lagu naff*


Tadinya, menetapkan deadline pas ulang tahun biar keren gitu, tapi sebulan sebelumnya udah kelar. Jarang-jarang hal kayak gini terjadi. Padahal iseng-iseng aja sih, biar gue merasa tertantang aja dengan deadline yang dicantumin disana.

Kenapa pake domain dot com?
1. Biar keren.
Gimana gak keren coba, di profil twitter gue udah gak ada lagi embel-embel blogspot/wordpress/tumblr. Haha!

2. Biar gak kepanjangan.
Sekarang kalo ditanya "Eh blog lo apa sih, gue pengen baca deh?" tinggal gue jawab "rifaldifath.com". Hanya perlu 1 detik.

3. Biar rajin nulis.
Ya masa domain udah (dot)com, nulis masih malas-malasan, acak-acakan gak jelas. Kalo lagi males, otak gue seolah-olah bilang "Ayo dong nulis! rifaldifath.com lho~"

Kenapa masih pake blogspot yang lama?
Karena disini udah lumayan banyak tulisan yang dulu. Males mindahin. Emang sih, tulisan dulu itu jijik banget. Tapi dengan begitu, gue bisa liat perkembangan tulisan gue. Sedih justru kalo masih sama aja. Kalo tua nanti, membaca cerita lama itu membahagiakan. Dan satu lagi, karena gue gak ngerti kalo bikin ulang semua.

Kok tampilannya gini sih?
Keren? Buat gue segini keren sih, simple. Gue suka warna abu-abu dan merah, gue suka tampilan kertas kusut dan batu bata warna abu-abu gelap. Justru gak keren kalo pake header yang samaan kayak yang lain, nampilin muka, pake judul sejenis 'xxxx bodoh' dll., udah overmuch.

Harapan kedepannya?
Cuma satu. Semoga bisa bayar tagihannya. Doa'in ya!


Mari, ngeblog!

Selasa, 11 Februari 2014

Pujian itu diapain?


Akhir-akhir ini gue seneng banget, karena punya banyak waktu luang. Menurut gue, salah satu (atau mungkin satu-satunya) kelebihan kuliah di kampus swasta adalah punya banyak waktu luang. Gue jadi punya waktu buat ngutak-ngatik blog ini, baca-baca postingan menjijikan zaman dulu dan nulis postingan baru yang lebih jelas arahnya.

Ada beberapa tulisan terbaru yang lumayan mendapat respon dari yang udah baca (jarang-jarang ya ada yang baca).

Menjelang pemilu tahun ini yang kebetulan adalah kesempatan pertama gue punya hak pilih, mau gak mau gue harus nyari tau siapa aja yang mencalonkan diri jadi presiden. Akhirnya, gue memutuskan sepenuhnya untuk mendukung Anies Baswedan. Dan salah satu bentuk dukungan gue adalah dengan menulis tentang beliau, di entri Inilah yang kita cari, Anies Baswedan!. Tulisan itu gue share di twitter, dan mendapat tanggapan berikut:







Lalu, saking yakinnya gue akan sosok Anies Baswedan, gue sok-sok-an bagi-bagi tips untuk anak muda supaya bisa memberikan perubahan untuk Indonesia yang berupa 6 langkah sepele untuk perubahan Indonesia. Lagi-lagi gue share di twitter dan beberapa mention masuk:







Itu belum termasuk respon yang masuk lewat whatsapp dan BBM.

Liat tanggapan-tanggapan itu gue seneng, gue senyum-senyum sendiri, gue bangga, gue merasa jadi orang paling jago menulis. Gue merasa jadi orang hebat!

Lalu gue pikir-pikir lagi.. Segitu doang hal yang ingin gue capai? Segitu aja udah bikin puas dan bangga?

Saking jarangnya dipuji kali ya. Pernah sih dulu dapet pujian waktu ditantangin temen nyolong cucian celana dalem tetangga. Karena merasa tertantang gue lakuin dan berhasil. Temen-temen pada muji gue, sementara tetangga maki-maki gue. (Ah ini jangan dipercaya)

Gue inget pesan Raditya Dika, "Sering merasa kerdil adalah kunci menjadi hebat". Memang benar. Orang-orang hebat yang gue temui sebenarnya mereka sendiri merasa gak begitu hebat. Orang lain lah yang mencapnya hebat. Karena saat mereka merasa hebat, meraka akan berhenti belajar, berhenti berkarya. Merasa hebat itu ibarat menginjak rem. Perjuangan berhenti disana, saat dicapainya kepuasan.

Dan pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana seharusnya memperlakukan pujian itu?

Gue sekarang tau, kalo pujian itu kayak racun (dalam obat), jika pemakaiannya cukup bisa berdampak baik, kalo berlebihan malah bikin mabuk. Gue lalu menerjemahkan pujian itu sebagai bentuk apresiasi orang terhadap apa yang gue kerjakan. Dengan begitu, pujian itu seolah-olah adalah penyemangat. Makin banyak pujian makin semangat untuk terus melakukan yang lebih baik.

Jadi ada 2 pilihan memperlakukan pujian, menjadikannya titik akhir usaha dengan merasa puas atau menjadikannya penyemangat untuk terus berbuat sesuatu.

Terkesan menggurui gak sih? Jangan dong ya. Ini buat ngingetin diri gue sendiri aja sih. Jadi lain kali kalo gue mendapat pujian lagi, gue akan baca postingan ini, biar gue tau bagaimana cara memperlakukan sebuah pujian.


Dari orang yang merasa kerdil,


Jumat, 07 Februari 2014

6 Langkah Sepele Untuk Perubahan Indonesia


Agak lebay ya judulnya? Tapi coba deh pikirin dan bayangin impact-nya nanti. Semua langkahnya gak butuh modal uang, hanya niat dan keyakinan. Mari kita ikuti satu per-satu.

Berhenti apatis sama politik!
Ini tahap awal banget. Susah emang, karena politik di mata kita (anak muda) udah jelek banget. Analoginya seakan-akan kita menganggap orang yang dulunya pernah pake narkoba, mencuri dan tindak kriminal lainnya nggak ada kesempatan lagi untuk menjadi orang yang bener. Jahat ya? Kasih kesempatan lah, kalo terus-terusan gini kan gak bakal ada perubahan. Analogi lainnya yaitu ketika ada cewek yang dikhianati sama seorang cowok lalu si cewek menjudge semua cowok sama brengseknya. Dan ketika ada cowok baik yang punya niat baik untuk menyayanginya, si cewek udah nutup pintu hatinya rapat-rapat. Rugi kan itu cewek? Kondisi politik kita juga gitu, kita keseringan sakit hati sama pejabat-pejabat yang terpilih. Lalu ketika ada orang baik yang punya niat baik untuk melunasi janji kemerdekan, kita lantas menganggap dia sama aja kayak yang dulu-dulu. Buka mata, coba kanalin lebih jauh. Mau gak mau keputusan-keputusan politik itu akan selalu mempengaruhi kehidupan kita. Apatis sama politik sama aja membiarkan diri lo dibodoh-bodohi sama orang-orang yang mempunyai kedudukan penting.

Yakinkan diri lo bahwa tiap hak suara kita di PEMILU itu ngaruh!
Kalo semua pemilih muda dikumpulkan dan mereka menyamakan suara untuk memihak satu parpol, maka kemungkinan, menang lah parpol itu. Karena sebanyak 50juta hak pilih itu dipegang oleh anak muda, itu sekitar 30% dari total suara. Angka itu menunjukan bahwa anak muda tidak lagi dianggap sebagai pelengkap yang suaranya tidak berpengaruh besar, justru kita punya kesempatan besar untuk merubah Indonesia. Apa gak kebayang kalo beberapa dari kita memilih untuk golput, lalu ada orang kampret yang mempergunakan surat suaranya untuk menguntungkan calon tertentu yang ujung-ujungnya malah merugikan kita? Ayolah.. Don’t keep calm, let’s vote for better Indonesia!

Buka mata, pergunakan internet!
Di era teknologi yang makin canggih ini, agak bodoh rasanya kalo melempar pertanyaan yang belum sempat kita cari jawabannya di Google. Pertanyaan-pertanyaan kayak “Siapa aja sih calon presiden kita kali ini?”, “Kenapa Aburizal Bakrie beli seham Path?”, “Sebenarnya Win-HT itu nyapres atau casting sinetron?”, “Itu Anies Baswedan siapa lagi?” dan lain-lainnya bisa dijawab oleh Google. Dan ingat, jangan baca  dari satu media saja, bandingkan dengan media-media lainnya. Sekarang kan media banyak dipegang sama para capres. Masa iya media tersebut bisa berbicara se-objektif mungkin.

Pilih calon yang benar!
Dari informasi yang didapat tadi, carilah pemimpin yang menurut lo bisa membawa Indonesia menjadi negara yang kita dambakan selama ini. Pemimpin yang nggak hanya memimpin, tapi juga menggerakkan, sehingga kita bukan hanya mempersilahkan beliau untuk mengelola negara tapi juga menanyakan hal apa yang bisa kita bantu. Pemimpin yang bikin kita bangga saat teman asal negara lain bertanya “Who is your president?” karena kita akan menjawabnya dengan segudang pencapaian gokilnya untuk negara bahkan dunia. Pemimpin yang saat kita punya anak nanti, kita akan menceritakan beliau kepada anak kita dengan harapan agar anak kita bisa mencontoh dan terinspirasi oleh beliau. Semua orang punya kriteria pemimpin yang berbeda, tapi gue yakin tujuannya pasti sama, menjadikan Indonesia negara yang kuat dan membanggakan!

Dukung dengan menyebar luaskan pilihan lo itu!
Ketika lo udah tau, siapa yang akan elo dukung. Memilih pada tanggal 9 April nanti hanyalah bagian kecil. Apa jadinya kalo capres yang lo dukung itu tidak dikenal orang banyak? Sayang banget kalo kualitas tersisih karena kalah popularitas. Masih ada waktu sebelum hari H, masih ada kesempatan lo untuk membuat minimal orang-orang disekitar lo mengenali sosok yang lo pillih itu. Lakukan lah dari sekarang, dengan menjadikan itu topik obrolan ringan dengan orang-orang di sekitar.

Turun tangan!
Mari hadirkan sifat turun tangan pada karakter anak muda Indonesia. Sifat yang nggak cuma pinter ngoceh dan ngeluh, tapi juga bergerak melakukan perubahan. Saling menginspirasi dan saling berkolaborasi.

Saat tulisan ini dibuat, gue membayangkan Indonesia yang benar-benar keren. Dan gue rasa kita bisa membuat itu bukan sebatas bayangan, tapi kenyataan.

 (Tulisan ini udah dipost di blog relawan Turun Tangan: http://relawan.turuntangan.org/author/rifaldi-fathurohman/)

Selasa, 21 Januari 2014

Ini yang Kita Cari, Anies Baswedan!


Sebelum tulisan ini dipublish, gue udah menduga kalo beberapa orang akan mengira bahwa gue cuman sebatas ikut-ikutan Pandji Pragiwaksono. Dan dugaan gue terbukti. Tapi sayang, itu salah. Karena bukan hanya Pandji, tapi juga Rene Suhardono dan Edward Suhadi. Gak tau mereka itu siapa? Tapi tau siapa itu Farhat Abbas dan Vicki Presetyo? Semoga Tuhan memberkati.

Tapi seperti halnya Tuhan, Dia gak mungkin ngasih duit langsung ke gue dengan tangan dia, gak mungkin! Tuhan ngasih rezeki buat gue ya lewat perantara. Peran itu lah yang juga dilakukan oleh Pandji, Rene dan Edward. Bersyukur hati gue masih terbuka untuk menerima hadirnya sosok muda bernama Anies Baswedan yang dibawa tiga orang tadi. Pertama kali dengar Anies Baswedan memang dari Pandji. Pandji adalah panutan gue dalam berkarya. Tapi opini gue gak murahan, gak bisa seenaknya diubah sama siapapun (termasuk Pandji). Apalagi hak pilih gue.

Saat gue mengenal Anies Baswedan, kejadiannya sama kayak waktu gue tau kalo gebetan gue yang udah punya pacar tiba-tiba putus. Gue senang? Jelas. Tapi gue gak langsung percaya, gue harus mastiin dulu kebenarannya. Saat tau Anies Baswedan dari Pandji, gue senang, ternyata masih ada orang baik yang mau turun tangan, tapi gue gak langsung percaya. Bersyukur gue mulai menghilangkan salah satu kebiasaan  buruk gue: malas nyari info.  Makanya gue cari tau siapa itu Anies Baswedan di twitterwebsite pribadiwikipediarelawan pendukung dan berita-berita terkait beliau.

Ternyata track recordnya bagus. Dia orang baik! Gak punya masalah terkait penculikan aktivis di masa lalu, bencana lumpur-lumpuran yang gak abis-abis, dia juga gak punya televisi sendiri untuk mengiklankan diri seenaknya, dia gak berbulu dada dan suka begadang, dia bukan keteruanan sang proklamator, Dia hanyalah rektor Universitas Paramadina (dan menjadikannya rektor termuda sepanjang sejarah Indonesia), dia hanya orang yang menggerakkan para serjana terbaik negeri untuk mengajar ke pelosok-pelokos Indonesia melalui gerakan Indonesia Mengajar, dia hanya termasuk ke dalam 500 muslim berpengaruh di dunia, 100 tokoh intelektual dunia dan 20 tokoh dunia pembawa perubahan. Dan yang terpenting adalah dia punya keinginan untuk melunasi janji kemerdekaan. Kalo lupa sama janji kemerdekaan apa saja, silakan lihat di Pembukaan UUD 1945. Oh iya ya kan udah gak ikut upacara bendera lagi.

Baru kali ini gue melihat sosok calon presiden yang memberikan gue rasa optimis akan perubahan. Gue merasa Mas Anies itu sosok yang berbeda, dari cara beliau berkampanye (lewat gerakan turun tangan)

Bahkan saat gue liat cara beliau berbicara, hati gue seakan bilang “Nah ini nih yang kita cari! Ini dia orangnya!”

Apalagi saat beliau di Mata Najwa. Dan sekedar informasi, gue ini jarang-jarang kagum sama tokoh yang terjun ke dunia politik. Gue rasa ini saatnya gue berhenti berlaku apatis sama politik. Kalo gue gak mau orang jahat yang ngatur negeri ini, maka saat ada orang baik mau turun tangan ya gue jangan diam aja, harus gue dukung! Maka inilah yang gue lakukan, mendukung dan mengenalkan Anies Baswedan.

Tapi percuma sih kalo lo masih memilih untuk golput.  

Kapan mau ada perubahan kalau kita terus-terusan apatis?

(Tulisan ini udah dipost di blog relawan Turun Tangan: http://relawan.turuntangan.org/author/rifaldi-fathurohman/)

Akademis dan Bokep

Judul ini dibuat semenarik mungkin supaya banyak pembaca yang tertarik.



Yang biasa gue tulis adalah apa yang gue resahkan. Gak enak rasanya kalo punya keresahan tapi gak dikeluarin. Sebenarnya ada 2 jalan: ditulis atau dikatakan. Berhubung openmic jadwalnya tiap hari rabu, mending gue tulis di sini dulu aja.

Sore tadi beberapa temen menginterogasi gue. Walaupun awalnya basa-basi “Keseharian lo ngapain aja sih kok akademis lo bisa bagus?”, gue tau ujungnya pasti ingin menanyakan “Kenapa sih nilai-nilai lo bagus, padahal kan lo suka nonton bokep?” Membandingkan pencapaian akademis dan kebiasaan nonton film bokep itu bukan tindakan tepat sih. Karena keduanya malah mungkin bisa saling mengisi, saat lo capek belajar, cobalah menghibur diri dengan bokep. (Belum pernah gue coba, tapi kalo ada yang mau nyoba silahkan)

Gue kasih contoh deh, Ariel ‘Noah’ tau kan? Dia adalah musisi cerdas menurut gue. Perubahan “Peterpen” ke “Noah” malah bikin karirnya makin mentereng. Tapi lo tau kan kalo dia adalah PEMBUAT film bokep?! Bukan sekedar penonton lho, tapi aktor yang memainkan adegannya, bareng 2 artis terkenal lagi. Tapi apakah karena perilaku Ariel tersebut, lantas membuatnya menjauh dari kesuksesannya? Nggak. Dia sangat sukses di musik. Tapi, jangan sampe juga lo berpikiran untuk jadi orang hebat kayak dia, lo harus bikin video bergenre sama.

Nonton bokep itu manusiawi, orang psikologi pasti lebih paham. Gue malah meragukan sama seseorang (cewek/cowok) yang sama sekali gak tertarik. Jadi, pencapaian akademis gak bisa dilihat dari kebiasaan nonton bokep. Bisa aja yang jarang nonton bokep, akademis nya jelek, sedangkan yang sering nonton bokep, akademisnya malah bagus. Bukan ukuran. Kalo gue ditanya “Kenapa sih lo suka nonton bokep, tapi akademis lo bagus?”, dengan lemah lembut kayak Mario Teguh gue akan jawab ‘Ya, karena saya menonton video bokep itu bukan saat sedang mendengarkan dosen bicara, melainkan diwaktu-waktu senggang, ituuuu!”

Tapi kalo menganggap akademis gue mulus juga terlalu cepat sih. Gue cuman belajar dari pengalaman di IPB aja. Dulu, nilai UTS/UAS gue di IPB itu parah-parah, tapi setelah gue kuliah di Gunadarma, gue bisa dapet nilai UTS 100. Terima kasih banyak Gundar!

Pengawas Ujian Kampret

Nyontek itu soal biasa. Ada murid pandai yang mau berbagi jawaban pas ujian, ada juga yang pelit. Biasa. Ada pengawas yang tegas, ketika ngeliat gerak-gerik murid langsung bergegas. Ada juga pengawas yang pura-pura maenin gadget padahal memberi kesempatan murid untuk mencontek. Biasa. 

Tapi yang baru saja gue alamin adalah hal yang gak biasa.

Ujian Tengah Semester, saat berlangsungnya ujian gue membebaskan teman gue disamping (kanan-kiri-depan-belakang) untuk melihat jawaban gue sesuka mereka, bahkan sesekali gue berbagi lewat verbal. Saat gue merasa cukup puas sama jawaban gue, lembar jawabannya gue serahkan kepada pengawas. Kalo biasanya setelah nyerahin lembar jawaban, gue langsung bergegas keluar, kali ini nggak. Gue kembali duduk dan memperhatikan suasana kelas.

Entah kenapa gue kurang suka sama tampang pengawas saat itu yang cengengesan minta digampar. Dan keinginan gue untuk menggampar beliau makin menjadi ketika gue melihat pengawas itu dengan dinginnya menawarkan lembar jawaban gue ke teman gue yang tengah kebingungan menjawab soal “Belum diisi semaua ya? Mau liat jawaban ini gak?”, awalnya temen gue mengira itu cuman candaan seorang pengawas. Tapi setelah pengawas itu meletakkan lembar jawaban gue diatas mejanya sambil bilang “Udah nih liat aja, gapapa kok”. Teman gue dengan segera memindahkan jawaban gue ke lembar jawabannya. ”Kalo nggak gini caranya kapan selesainya kamu”  kata pengawas itu sambil cengengesan.

Beberapa fakta saat ujian berlangsung:
  • Ada 3 mahasiswa yang dia (pengawas) kasih lembar jawaban, berarti ada 3 mahasiswa yang lembar jawabannya dicontekkan gitu aja. Dan 3 mahasiswa yang lembar jawabannya dicontekkan itu gue rasa mereka mendapat jawaban dari hasil usahanya untuk memahami materi, bukan sembarangan menjawab.
  • Saat ujian, gue beberapa kali ngasih tau temen gue yang dapet contekkan dari pengawas. Berarti bukan masalah gue gak mau berbagi jawaban, tapi cara pengawas itu memperlakukan lembar jawaban gue yang seenaknya yang bikin gue kesel.
  • Waktu ujian telah ditentukan oleh kampus. Itu berarti selesai atau nggak, saat waktu habis, jawaban wajib dikumpulkan. Lalu kenapa si kampret itu berargumen bahwa tindakannya membagi-bagikan lembar jawaban adalah untuk mempermudah mahasiswa yang males belajar?!
Ketika pengawas itu lagi asyik ngasih lembar jawaban gue, mata gue nggak terlepas dari muka dia. Gue pelototin. Gue perhatikan terus gerak-gerik dia. Lalu gue berpikir untuk menanyakan nama dia, gue merencanakan untuk bertanya “Nama bapak siapa ya? Kelakuan Bapak barusan harusnya diketahui panitia UTS bahkan Dekan dan Rektor”.

Gue nunggu momen yang tepat, yaitu ketika semua mahasiswa keluar kelas dan hanya menyisakan gue dan pengawas itu di kelas. Sampai momen itu tiba, gue ciut. Gue malah takut kalo seandainya setelah gue ngomong gitu, pengawas itu malah melakukan sesuatu yang buruk terhadap lembar jawaban gue. Akhirnya gue cuma bisa keluar ruangan terakhir sambil tetap melototin dia, setelah dia bilang “Ayo” sambil tersenyum ke gue. Dan ketika dia naik tangga gue ngomong ke temen gue dengan nada tinggi “Anjir, pengawas tadi kampret!”.

Kenapa sih, gue takut untuk menegakkan keadilan ketika konsekuensinya adalah kerugian bagi gue?! Ah fuck!

Percaya Diri

Suatu sifat yang lumayan berpengaruh besar terhadap tingkah laku kita. Salting adalah akibat dari kepercayaan diri yang kurang. Bukan berarti percaya diri yang berlebih itu baik sih. Yang baik ya yang takarannya pas. Kepercayaan diri itu timbul setelah mendapat tanggapan dari orang lain terhadap diri kita (walaupun tanggapan itu baru sebatas dugaan menurut kita).

Misal lo bawa BMW ke kampus, dan lo akan merasa PD (bukan piala dunia ataupun perang dunia) ketika temen-temen elo bilang “Anjir mobil lo keren banget!”. Kalo pun temen-temen lo nggak bilang gitu, tapi elo menduga mereka akan kagum sama mobil lo di dalam hati mereka, elo akan tetap merasa PD. Hal yang sama akan terjadi ketika elo berpenampilan keren, membawa gadget terbaru, atau menggandeng cewek ber-hot pants. Itu adalah kepercayaan diri yang timbul akibat dari sesuatu yang terlihat.

Memang ada yang timbul dari sesuatu yang tidak terlihat? Ada, wawasan. Ketika lo punya pengetahuan tentang teknologi terbaru; alasan kenapa blackberry merelakan BBM-nya dipake oleh android dan iOS, tentang ekonomi; pengaruh ASEAN Economy Community terhadap perekonomian dalam negeri, tentang politik; kenapa Anies Baswedan ikut konvensi partai demokrat dan lain-lain, elo akan merasa PD. Perbedaannya adalah, ketika lo percaya diri karena sesuatu yang terlihat, itu hanya first impression. Karena ketika orang ngobrol sama elo dan elo kebanyakan merespon “Wah kalo soal itu gue gak tau”, “Wah kalo soal ini gue gak ngerti”, kekaguman orang terhadap lo akan hilang dan elo bakalan ciut.

Tapi ketika lo percaya diri karena lo punya wawasan yang luas, walaupun orang pada awalnya meremehkan lo karena elo gak tampil keren, gak bawa BMW dan gak ngegandeng cewek seksi, setelah orang tau isi kepala lo, orang akan kagum. Bukan saat itu saja, tapi seterusnya.

Jadi, lo udah ngerasa percaya diri?

Masa Depan

Kalo lo buka page ini karena berpikir gue akan ngasih elo motivasi supaya lo bisa memperoleh masa depan yang indah, elo salah. Mending lo buka:
http://inspiratorfreak.com atau http://youngontop.com.

Gue cuma mau ngomongin hal apa yang diprioritaskan buat masa depan. Banyak yang setuju bahwa sekolah adalah penentu masa depan kita. Kalo gak sekolah ya nggak punya masa depan. Ada lagi yang bilang ke pacarnya “You’re my future, beb”. Jadi ada dua hal disini: Sekolah dan Pasangan. Lalu mana yang lebih diprioritaskan?

Secara logika, saat lo punya ilmu karena bersekolah tinggi akan ada banyak lawan jenis yang tertarik terhadap lo dan mengantri untuk menjadi partner lo dalam menciptakan manusia baru (baca: berkeluarga). Sedangkan jika memilih pasangan, hubungan tersebut bisa berakhir kapan saja termasuk sebelum mencapai pelaminan dan melakukan prosesi penciptaan manusia baru (baca: baca aja yang tadi). Secara gak langsung, gue baru aja bilang kalo ber-sekolah itu lebih menentukan ketimbang mencari pasangan.

Hal yang diprioritaskan itu adalah hal yang paling penting, jadi semuanya akan diatur dengan matang dan melalui pemikiran panjang.

Tapi kenyataannya...

Dalam Ujian Nasional (yang merupakan Penentu lulus sekolah) kita membiarkan soal-soal kita dijawab oleh jawaban yang gak jelas dari mana asalnya sebenarnya. Sementara dalam mencari pasangan, ketika ada yang bilang “Mau gak jadi pacar aku?”, dengan keinginan untuk mendapat hasil terbaik kebanyakan dibalas dengan “Aku pikir-pikir dulu ya”.

Terlihat jelas mana yang diprioritaskan?

Dialog: Tentang Stand-up


Si Kepo: Fal , lo suka stand-up comedy ya?

Rifaldi: Suka? maksudnya menyukai atau melakukan nih?

Si Kepo: Emang ‘melakukan’ kata dasarnya suka ya? Nilai Bahasa Indonesia lo berapa sih?

Rifaldi: “Gue kalo pup, suka ngeden”, menurut lo ‘ngeden’ disana adalah hal yang dia sukai?

Si Kepo: Oke deh. Ganti! Fal, lo menyukai stand-up comedy ya?

Rifaldi: Ya.

Si Kepo: Kampret. Panjangin dikit lah jawaban lo!

Rifaldi: Yaa.

Si Kepo: Jayus lo! Alasan lo menyukai stand-up comedy apa?

Rifaldi: Gue butuh hiburan dan pengetahuan pada saat bersamaan.

Si Kepo: Oh, lo berasa jadi pinter gitu kalo udah nonton stand-up?

Rifaldi: Nonton stand-up bisa bikin gue ketawa (itu mah syaratnya komedi kan) sekaligus bikin gue mikir. Banyak materi komika yang diambil dari hal kecil yang biasanya sering kita abaikan. Dan respon akhir gue biasanya: “Anjir, bener juga ya”.

Si Kepo: Semua materi komika kayak gitu?

Rifaldi: Nggak lah, lo pikir semua penyanyi bawain lagu pop?

Si Kepo: Bisa kasih rekomendasi siapa komika yang harus gue tonton?

Rifaldi: Terserah elo. Lo pengen denger materi kayak gimana? Balik lagi ke orangnya.

Si Kepo: Menurut lo, orang kayak gue cocoknya dengerin materi kayak gimana?

Rifaldi: Nyet! Lo sama gue kan orangnya itu-itu juga, cuma lagi sok-sok-an dibikin dialog gini! Kalo lo pengen ketawa abis-abisan dengerin aja @bintangbete. Kalo mau sambil mengenal Indonesia: @Pandji. Ingin ngerasain jadi minoritas: @ernestprakasa. Ketawa sambil mengkritisi kebijakan pemerintah: @notaslimboy. Materi gak jelas, tapi lo bisa ketawa (dan diakhir lo mikir “kenapa gue ketawa ya”): @kemalpalevi. Ingin denger sesuatu yang gak munafik, apa adanya, bebas dan benar: @adrianoqalbi, @pangeransiahaan, @Kukuhya, @kamga_mo (WANA).

Si Kepo: Favorit elo siapa?

Rifaldi: Gue sih bakal berusaha buat dateng kalo ada gig mereka: WANA, Pandji Pragiwaksono, Sam D. Putra, Ryan Adriandhy, Rindra Dana.

Si Kepo: Lo pernah nyobain stand-up juga?

Rifaldi: Ah, lo pura-pura nggak tau. Buat gue stand-up itu media yang cocok untuk orang yang punya keresahan, uneg-uneg tentang apapun itu dan sekaligus menghibur orang (kalo lucu). Kalo nggak, ya nyakitin diri sendiri. 

Si Kepo: Oh. Okedeh. Udah ya.

Rifaldi: Anjir, closingnya gitu doang?!

Dialog: Rifaldi & Senior PSK


Rifaldi: Kak!

Senior PSK: Iya dek, mau beli stikernya ya? Ayo beli dong!

Rifaldi: Kakak PSK ya?

Senior PSK: (ngegampar)

Rifaldi: Maksudnya (P)enjual (S)tiker (K)ampus, Kak.

Senior PSK: (senyum)

Rifaldi: Tai lo. Emang stiker ini buat apa?

Senior PSK: Buat ditempel lah.

Rifaldi: Kurang lucu ah. Terus kalo kita nempel stiker ini di kendaran kita misalnya, ngaruhnya apa? 

Senior PSK: Ya biar orang tau lah kalo elo kuliah di kampus ini, gitu.

Rifaldi: Oh semacam nyombongin diri "Woy gue mahasiswa ini nih!"

Senior PSK: Tepatnya sih bangga.

Rifaldi: Kita bangga ke kampus, tapi kampus belum tentu bangga sama kita?

Senior PSK: Seenggaknya dengan makin banyak mahasiswanya yang nempel stiker ini, nama kampus kita juga bakal lebih terkenal.

Rifaldi: Oh, terkenal lewat stiker? Keren.

Senior PSK: Lo maunya apa sih?

Rifaldi: Mau nanya lagi, menurut Kakak kampus lebih bangga sama mahasiswanya yang nempel stiker ini atau sama mahasiswa yang rajin belajar terus ikut kompetisi dan menang?

Senior PSK: Kalimat yang kedua.

Rifaldi: Oh, yaudah deh saya gak jadi beli stiker ini, mau belajar aja.

Senior PSK: Menurut lo, orang kayak elo enaknya dibunuh pake gunting kuku atau lubang pantat lo gue korek-korek pake cotten bud?

Rifaldi: Daaah~

Antusiasme di Awal

Akhir-akhir ini gue dibanggakan dengan kelakuan orang-orang yang baru saja akan menjadi mahasiswa. Di twitter, mereka terlihat begitu antusias. Begitu aktif bertanya tentang kampusnya, mulai dari persyaratan yang harus disiapkan, fasilitas apa aja yang tersedia, sampe ada yang minta follback akunnya.

Menyedihkan.

Naluri “pengennya disuapin” begitu kental. Hal-hal sepele yang bahkan sebenernya udah dibahas mereka tanyakan. Mereka nggak tau kalo sebenernya “nyari makan dan nyuapin sendiri” itu bisa lebih enak.

Gue seneng ngeliat mereka merasa bangga dengan kampus barunya. Yaitu ketika gue liat nama kampusnya ada di bio twitternya. Nama-nama kayak ITB, UGM, UI, IPB berhasil menambah sedikit kekerenan akun mereka. Entah mereka ingin menujukan kebanggaannya atau hanya itu saja pencapainnya?

Permulaan emang bikin semangat. Masih ingat waktu pertama kali masuk sekolah? Semuanya disiapkan se-perfect mungkin kan? Seragam baru, tas baru, sepatu baru, buku baru buktinya.
Makin berjalan, apa semangatnya masih sama? Apakah pergi sekolah masih sepagi waktu hari pertama? Apakah pensil yang lo pake selalu sepanjang hari pertama? Apakah seragam lo selalu seputih hari pertama?

Jujur, gue selama sekolah cuma punya tempat pensil beberapa minggu pertama doang. Kesananya gue naruh alat tulis asal masuk tas gitu aja.

Antusiasme di awal begitu luar biasa efeknya. Lantas beberapa orang menganjurkan untuk menganggap setiap hari adalah hari pertama. Manjur sih, tapi bosan! Kita nggak dapet makna “Ngapain gue di dunia?”, semangat tiap hari tanpa tau apa yang mau lo kasih selama hidup lo.
Lalu gue kepikiran, gimana kalo gue anggap setiap hari adalah hari terakhir di hidup gue. Gue anggap gue akan mati setelah matahari terbenam. Mungkin selama matahari bersinar di hari itu, gue bakal ngelakuin apapun semaksimal yang gue bisa. Karena gue pengen sebelum mati, gue bisa meninggalkan karya. Layaknya gajah ninggalin gadingnya.

Jadi, mending nganggap setiap hari itu hari pertama atau hari terakhir? Lo cobain aja deh!

Sekali Coba Bikin Ketagihan

Lo perokok? Kalo iya, gue tebak bahwa pertama kalo lo ngerokok adalah karena lo penasaran ingin nyoba (walau lo tau itu bisa bikin impotensi) kan?
Kalo lo bukan perokok gue kasih pertanyaan lain deh..
Lo pernah ciuman? Kalo iya, gue tebak bahwa pertama kali lo ciuman adalah karena lo penasaran ingin nyoba (walau lo tau agama lo ngelarang itu) kan?
Kalo memang prediksi gue benar. Jangan samakan gue dengan Deddy Corbuizer atas tebakan-tebakan culun gue di atas.

Pertama kali jadi anak kost gue bertekad bakal nyuci pakain gue sendiri, gue nggak mau nyuci ke laundry. Dengan alasan; gue punya banyak waktu kosong buat nyuci dan gue pengen berhemat. Apakah tekad gue bertahan? Enggak! Bahkan sekarang gue cuma nyuci kolor dan tanktop doang, sisanya gue bawa ke laundry. Gara-garanya adalah rasa penasaran gue nyuci ke laundry. Sekali coba, ngerasa enak. Yaudah, akhirnya ketagihan terus.

Mungkin rasa penasaran ini juga yang bikin remaja hamil diluar nikah ya? Pertama mereka penasaran pengen pelukan. Lalu meraka penasaran pengen ciuman. Rasa penasaran-penasran yang bertahap itu diakhiri  dengan rasa penasran akan ML.

Lalu gimana jadinya kalo seorang tukang bolos sekolah penasaran pengen ngerasain jadi siswa berprestasi? Penasaran pengen jadi seorang juara umum?

Lalu gimana jadinya kalo seorang pengemis penasaran pengen nyoba buka usaha? Pengen punya perusahan sendiri? Pengen punya karyawan?

Mungkin itu rasa penasaran yang tersalurkan  pada hal positif.

Sekali lo nyoba sesuatu hal dan itu menyenangkan buat lo, lo bakal ketagihan. Terserah elo, rasa penasaran lo mau dibawa kemana?

Manusia On Time

“Kita kumpul jam 3 sore ya!”
“Lho, bukannya acaranya jam 5 ya?” 
“Iya, itu belum sama jam ngaretnya, lo tau lah Indonesia”
Bangga gak sih jadi orang yang tinggal di Negara yang dianggap tukang ngaret? Enggak?

Ada gak sih upaya dari diri lo buat ngilangin anggapan itu? Enggak juga?

Oke. Susah memang. Tapi gue bersyukur kalo lo masih bisa jawab ‘enggak’ pada pertanyaan pertama.

Semua orang rame-rame melebihi sekian menit setiap ada janji, dengan alasan “semuanya juga bakal telat kok”, “ah paling acaranya ngaret”, dan semua kalimat-kalimat negatif lainnya. Semuanya  berpikiran kalo orang-orang bakal ngaret. So, datang tepat waktu adalah sebuah kerugian. Dengan perkiraan waktu ngaret yang bervariasi tiap kepala dampaknya adalah ada yang datang lebih 5 menit dari waktu yang ditentukan, ada yang lebih 10 menit dan macem-macem. Ini yang bikin rencana jadi kacau!

Gue pribadi pengen jadi manusia on time. Bukan biar keliatan keren. Bukan biar keliatan beda dari yang lain. Gue cuma pengen orang lain juga ngikutin, makin banyak manusia on time, ya makin bagus! Pasti tiap agenda bakal berjalan seusuai jadwal. Nggak ada waktu ngaret! Nggak ada lagi yang namanya “Nunggu yang belum dateng”. Semuanya pasti bakal lancar!

Hahaha keinginan gue mengada-ngada ya?