Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Suasana Twitter saat dan setelah Debat Capres

Twitter memang selalu ramai membahas tentang sesuatu hal, nah yang jadi pembahasan kemarin malam adalah tentang debat capres. Keterbatasan ruang tidak mengurungkan niat para aktivis twitter untuk menyuarakan opininya terkait jalannya debat maupun diluar debat.

Bukan hal aneh lagi kalo orang yang berkicau di twitter terlihat lebih pandai dari orang yang sedang dibahas. Seperti halnya saat pertandingan sepak bola, timeline home Twitter gue terlihat seperti pengamat sepak bola semua, padahal seingat gue yang gue follow kebanyakan adalah teman-teman gue.

Yang terjadi kemarin malam adalah.. gue merasa telah memfollow pengamat-pengamat politik.

Ada yang membahas debat capres secara serius, ada yang untuk lucu-lucuan. Gue? Antara keduanya.

Tapi sayangnya, sebuah tweet itu cepat lenyap. Jadi gue ingin mendokumentasikan tweet-tweet semalam disini.

Eh, ada baiknya lo menonton jalannya debat terlebih dulu, sih. 
if you know what I mean.

Itu pas sesi pertama.

Gue masih menjaga optimisme itu, sih.

Ya kali aja, kan.

Sementara itu..
Setia itu udah habit gue. Jadi tunggu apa lagi, jadian yuk!

Maaf, ini Bobotoh. Haha!

 Ini bebal sih. Tapi 6 orang setuju?

Ya, sesimpel itu.

Namanya juga anak kost kere, gak punya TV.

Lalu gue penasaran, selapas debat capres, apa tweet pertama dari kedua capres:
sedangkan, yang satunya..
Gue sih percaya sama hal-hal kecil.

***

Sementara itu, datang kabar baik di tab mention yang menjauhkan gue dari keharusan makan mie instan weekend ini.
Pertanyaannya: Satu lagi buat siapa? :(

***

Jalannya debat capres memang cukup panas, begitu juga di Twitter. Tapi pasca debat, di linimasa Twitter malah banyak tawa seiring munculnya hestek ngehek yang diinisiasi oleh komika tentang tema yang akan diangkat di debat capres selanjutnya.
Gue pun tertantang untuk ikut meramaikan..
Politik selalu bisa menghasilkan tawa, ya?

Sabtu, 08 Maret 2014

Dibalik Debat Capres Partai Demokrat - Bogor

Hari Minggu, 2 Maret 2014 adalah kali pertama gue berkesempatan untuk datang langsung pada debat capres Partai Demokrat yang diadakan di Puri Begawan, Bogor. Setelah pada konvensi-konvensi sebelumnya gue hanya melihatnya dalam bentuk video, itu pun sebatas jalannya debat. Tetapi ketika gue datang menyaksikan langsung, yang gue lihat bukan hanya jalannya debat tapi semua yang terjadi dibalik debat. Dan itulah yang akan gue ceritakan di postingan kali ini.

Cristiano Ronaldo pun ikut berkampanye.
Begitu memasuki Kota Bogor, gue dan teman-teman relawan Depok disambut dengan berbagai spanduk dari para peserta konvensi di sepanjang jalan menuju Puri Begawan. Sakit mata gue melihat spanduk yang sama dengan jumlah banyak dan berjarak hanya 3 meter antar-spanduknya. Entah apa pesan yang ingin disampaikan. Tapi begini ya Pak Capres..

Ukuran dan banyaknya spanduk yang anda pasang, tidak akan memperbesar peluang anda terpilih. Karena yang akan kami pilih adalah Pemimpin, bukan Perusak Pohon. 

Hanya dua orang peserta konvensi yang tidak terlihat satu pun spanduk dirinya yang terpasang, Pramono Edhie dan Anies Baswedan. Tepuk tangan untuk mereka dong!


Sampai di depan gedung Puri Begawan, tempat berlangsungnya debat capres partai demokrat (yang memiliki warna dominan biru), tapi saat itu yang terlihat adalah orang-orang dengan kaos warna merah lebih dari 100 orang. Apakah itu kader PDIP yang salah tempat? Bukan, ternyata mereka adalah para Relawan Turun Tangan-nya Anies Baswedan!

Ada 11 orang capres yang mengikuti konvensi PD. Dan semuanya memiliki pendukungnya sendiri yang juga ikut hadir disana, yang membedakan antar-pendukung adalah kaos, atribut yang dibawa, yel-yel, semangat, antusias, umur dan background pendukung dan tujuan mendukung. Berbeda dengan pendukung capres lain yang memakai kaos berwarna putih-biru, warna merah-putih mendominasi kaos yang dipakai relawan turun tangan. Tidak menghargai Partai Demokrat sebagai penyelenggara konvensi? Nggak lah, orang gak ada aturannya. Ini hanya membuktikan kalo kita punya pilihan, kita memilih merah karena mencerminkan keberanian dan semangat kita.

Kita tidak datang dengan tangan kosong, ada macam-macam atribut yang kita bawa, yang sengaja dibuat untuk meramaikan jalannya debat dan dengan biaya dari kantong celana kita sendiri. Mungkin anda juga bertanya "Apakah pendukung capres lain melakukan hal yang sama?" Gue jawab dengan senyuman dulu deh ya, hehehe kaos aja ada yang baru dibagikan sesaat sebulum debat dimulai. hehehe (senyum lagi)


Selagi menunggu para peserta debat dan presiden datang, sambil berdiri di pinggir jalan dan memegang atribut, kita sesekali memamerkan yel-yel bikinan kita. Agak jauh dari tempat kita berdiri, ada beberapa pendukung capres lain yang lagi duduk dan menyender. Saat itu gue mencoba menerjemahkan raut muka mereka saat melihat antusias relawan turun tangan. Mungkin mereka heran terhadap kita "Ini yang kaos merah kok semangat amat ya, bayarannya gede kali ya". Beberapa dari mereka ada yang mengendong bayinya, seorang teman relawan menebak perkataan ibu tersebut pada bayinya: "Nak, kamu jangan nangis ya, karena kalo kita gak dateng kesini kamu gak akan bisa minum susu". Kurang lebih begitu.

Begitu Mas Anies Baswedan datang, kita sambut dan antarkan beliau memasuki gedung dengan teriakan "Kita relawan! Bukan bayaran!", berulang-ulang.


Pundukung lain juga tidak kalah rame menyambut capres pilihannya, walaupun hanya dengan teriakan dan tepuk tangan. Padahal kalo pun mau memakai tagline milik kita juga boleh-boleh aja sih, tapi sedikit diubah jadi "Kita bayaran! Bukan relawan!". Begitu.


Ketika debat akan segera dimulai, ternyata gak semua yang datang diperbolehkan masuk melihat langsung jalannya debat. Beberapa dari kita hanya bisa menonton melalui televisi yang disediakan, itu pun tidak ada suranya. Jadi ketika Pak SBY memberikan sambutan, kita menerka-nerka perkataan beliau melalui gerak mulutnya, alhasil ketika beliau mengatakan 'Untuk kita semuanya!" kita mengira beliau bilang "Buset ada buaya!". Tapi walaupun begitu, kita tetap berada dalam gedung dan mencari cara untuk bisa mengikuti jalannya debat. Mulai dari menelpon relawan yang ada di dalam dan me-loudspeaker-kan handphone-nya biar terdengar suara tiap capres, sampai ada yang mengajak iuran untuk membeli TV Phone murah. Saat itu kita hanya meilhat satu-dua pendukung capres lain, sisanya tersebar di warung-warung sekitar Puri Begawan, tapi kaos yang baru mereka terima tidak dilepas. Karena mungkin ada tugas mereka satu lagi sebelum mendapat bayaran: mengantar capres yang didukungnya meninggalkan gedung.

Setelah beberapa lama debat dimulai, akhirnya kita bisa bergantian masuk ke dalam ruangan debat. Di dalam, suasananya rame sekali. Tiap pendukung mempunyai jatah tempat duduk yang sama, tapi di bagian belakang yang tidak ber-tempat duduk, seperti biasa dipenuhi gerombolan berkaos merah.


Setiap Mas Anies selesai berbicara, teriakan dan tepuk tangan selalu kita lakukan. Hal yang sama tidak dialami oleh peserta konvensi lain. Mungkin SBY dan Bu Ani yang hadir di sana juga bergumam "Ini pendukungnya Anies banyak banget!". Untuk tahu jalannya debat, tinggal klik di sini. Beberapa capres mengaku kagum terhadap kebijakan pemerintah SBY dan akan meneruskannya jika terpilih nanti. Bahkan Dahlah Iskan diakhir pembicaraannya berkata "Lanjutkan!" Gue tidak yakin hal itu tetap akan mereka lakukan jika SBY tidak hadir di debat capres hari itu. Anies Baswedan saat itu dipercaya untuk mengakhir debat dengan closing statement. Gue rasa ini bukan kali pertama Mas Anies menutup suatau acara, di Mata Najwa dan mungkin di debat-debat sebelumnya juga pernah atau bahkan selalu. Karena apa yang beliau ucapkan memang selalu begitu luar biasa. Mas Anies juga mengingatkan SBY bahwa saat Pak SBY menjadi capres yang menjadi moderator debatnya adalah Anies Baswedan (yang sekarang menjadi capres).

Melihat pendukung capres lain, sebenarnya kita iri. Begitu break mereka mendapat konsumsi nasi kotak. Tapi kita relawan bukan bayaran, makanya kita rela bayar semuanya sendiri, termasuk untuk makan.

Karena hadirnya kita ke konvensi adalah untuk mendukung Anies Baswedan, bukan untuk mendapatkan uang jajan.

Begitu debat selesai, ketika pendukung capres lain meninggalkan ruang debat, kita menghampiri Anies Baswedan sambil menyanyikan yel-yel hingga ke pintu utama, karena semua peserta konvensi akan rapat tertutup dengan SBY.


Kira-kira 30 menit menunggu, akhirnya satu persatu capres keluar dan meninggalkan Puri Begawan, tiap capres yang lewat kita sapa dengan hormat, bahkan ketika Pak Gita lewat dengan kompak dan senyum kita bilang "Dukung Mas Anies ya Pak". Gue menduga yang ada dalam hatinya Pak Gita saat itu "Pala lu!". Dan akhirnya Mas Anies Baswedan pun keluar, tapi beliau tidak bisa langsung meninggalkan tempat begitu saja, karena disambut hampir seratus relawan dan beberapa wartawan. Beliau pun menjawab beberapa pertanyaan wartawan dan memberikan wejangan buat para relawan dengan diakhiri ajakan untuk menyanyikan lagu Padamu Negeri. Entah kapan lagu itu terakhir kali gue nyanyikan, yang jelas saat itu mata gue berkaca-kaca. Hingga saat Pak SBY meninggalkan Puri Begawan, lagu itu masih kita nyanyikan.


Sekitar pukul 20.30, kita meninggalkan Puri Begawan. Beberapa relawan tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, tapi kita makan malam dulu bersama Mas Anies.

Beruntung banget yang duduk satu meja.
Setelah makan, kita membacakan janji relawan turun tangan dan ada beberapa relawan yang memberikan kesan dari kegiatan kita hari itu, diantaranya relawan asal Aceh dan Papua yang sengaja datang ke Bogor untuk mendukung Mas Anies. Keren!

Lalu, karena mengejar jadwal pesawat, relawan asal Papua itu pamit untuk pulang dan menyalami kita satu per satu, kita semua melepasnya dengan menyanyikan lagu Tanah Air. Kali ini mata gue lebih dari sekedar berkaca-kaca.


Yang menarik pada saat itu adalah Mas Anies Baswedan membahas hal yang tidak biasa, yaitu soal cinta. Iya, cinta. Intinya, menurut Mas Anies ada yang salah ketika seseorang mengatakan "I Love You Full". Mendengar penjelasannya gue ketawa lepas, bisa-bisanya Mas Anies ngomongin itu. hahaha. Nanti akan jadi sebuah sejarah, ada presiden RI yang bikin gue ngakak karena pembahasannya tentang cinta. 

Gue ketawa ngikik sambil tepuk tangan.
Mau tau apa yang Anies Baswedan katakan? Rahasia~ Ini khusus untuk relawan turun tangan. Makanya, Yuk ikut turun tangan!



Berita terkait:
Republika - Relawan Anies Baswedan Meriahkan Konvensi Partai Demokrat

Video terkait:

Jumat, 07 Februari 2014

6 Langkah Sepele Untuk Perubahan Indonesia


Agak lebay ya judulnya? Tapi coba deh pikirin dan bayangin impact-nya nanti. Semua langkahnya gak butuh modal uang, hanya niat dan keyakinan. Mari kita ikuti satu per-satu.

Berhenti apatis sama politik!
Ini tahap awal banget. Susah emang, karena politik di mata kita (anak muda) udah jelek banget. Analoginya seakan-akan kita menganggap orang yang dulunya pernah pake narkoba, mencuri dan tindak kriminal lainnya nggak ada kesempatan lagi untuk menjadi orang yang bener. Jahat ya? Kasih kesempatan lah, kalo terus-terusan gini kan gak bakal ada perubahan. Analogi lainnya yaitu ketika ada cewek yang dikhianati sama seorang cowok lalu si cewek menjudge semua cowok sama brengseknya. Dan ketika ada cowok baik yang punya niat baik untuk menyayanginya, si cewek udah nutup pintu hatinya rapat-rapat. Rugi kan itu cewek? Kondisi politik kita juga gitu, kita keseringan sakit hati sama pejabat-pejabat yang terpilih. Lalu ketika ada orang baik yang punya niat baik untuk melunasi janji kemerdekan, kita lantas menganggap dia sama aja kayak yang dulu-dulu. Buka mata, coba kanalin lebih jauh. Mau gak mau keputusan-keputusan politik itu akan selalu mempengaruhi kehidupan kita. Apatis sama politik sama aja membiarkan diri lo dibodoh-bodohi sama orang-orang yang mempunyai kedudukan penting.

Yakinkan diri lo bahwa tiap hak suara kita di PEMILU itu ngaruh!
Kalo semua pemilih muda dikumpulkan dan mereka menyamakan suara untuk memihak satu parpol, maka kemungkinan, menang lah parpol itu. Karena sebanyak 50juta hak pilih itu dipegang oleh anak muda, itu sekitar 30% dari total suara. Angka itu menunjukan bahwa anak muda tidak lagi dianggap sebagai pelengkap yang suaranya tidak berpengaruh besar, justru kita punya kesempatan besar untuk merubah Indonesia. Apa gak kebayang kalo beberapa dari kita memilih untuk golput, lalu ada orang kampret yang mempergunakan surat suaranya untuk menguntungkan calon tertentu yang ujung-ujungnya malah merugikan kita? Ayolah.. Don’t keep calm, let’s vote for better Indonesia!

Buka mata, pergunakan internet!
Di era teknologi yang makin canggih ini, agak bodoh rasanya kalo melempar pertanyaan yang belum sempat kita cari jawabannya di Google. Pertanyaan-pertanyaan kayak “Siapa aja sih calon presiden kita kali ini?”, “Kenapa Aburizal Bakrie beli seham Path?”, “Sebenarnya Win-HT itu nyapres atau casting sinetron?”, “Itu Anies Baswedan siapa lagi?” dan lain-lainnya bisa dijawab oleh Google. Dan ingat, jangan baca  dari satu media saja, bandingkan dengan media-media lainnya. Sekarang kan media banyak dipegang sama para capres. Masa iya media tersebut bisa berbicara se-objektif mungkin.

Pilih calon yang benar!
Dari informasi yang didapat tadi, carilah pemimpin yang menurut lo bisa membawa Indonesia menjadi negara yang kita dambakan selama ini. Pemimpin yang nggak hanya memimpin, tapi juga menggerakkan, sehingga kita bukan hanya mempersilahkan beliau untuk mengelola negara tapi juga menanyakan hal apa yang bisa kita bantu. Pemimpin yang bikin kita bangga saat teman asal negara lain bertanya “Who is your president?” karena kita akan menjawabnya dengan segudang pencapaian gokilnya untuk negara bahkan dunia. Pemimpin yang saat kita punya anak nanti, kita akan menceritakan beliau kepada anak kita dengan harapan agar anak kita bisa mencontoh dan terinspirasi oleh beliau. Semua orang punya kriteria pemimpin yang berbeda, tapi gue yakin tujuannya pasti sama, menjadikan Indonesia negara yang kuat dan membanggakan!

Dukung dengan menyebar luaskan pilihan lo itu!
Ketika lo udah tau, siapa yang akan elo dukung. Memilih pada tanggal 9 April nanti hanyalah bagian kecil. Apa jadinya kalo capres yang lo dukung itu tidak dikenal orang banyak? Sayang banget kalo kualitas tersisih karena kalah popularitas. Masih ada waktu sebelum hari H, masih ada kesempatan lo untuk membuat minimal orang-orang disekitar lo mengenali sosok yang lo pillih itu. Lakukan lah dari sekarang, dengan menjadikan itu topik obrolan ringan dengan orang-orang di sekitar.

Turun tangan!
Mari hadirkan sifat turun tangan pada karakter anak muda Indonesia. Sifat yang nggak cuma pinter ngoceh dan ngeluh, tapi juga bergerak melakukan perubahan. Saling menginspirasi dan saling berkolaborasi.

Saat tulisan ini dibuat, gue membayangkan Indonesia yang benar-benar keren. Dan gue rasa kita bisa membuat itu bukan sebatas bayangan, tapi kenyataan.

 (Tulisan ini udah dipost di blog relawan Turun Tangan: http://relawan.turuntangan.org/author/rifaldi-fathurohman/)

Selasa, 21 Januari 2014

Ini yang Kita Cari, Anies Baswedan!


Sebelum tulisan ini dipublish, gue udah menduga kalo beberapa orang akan mengira bahwa gue cuman sebatas ikut-ikutan Pandji Pragiwaksono. Dan dugaan gue terbukti. Tapi sayang, itu salah. Karena bukan hanya Pandji, tapi juga Rene Suhardono dan Edward Suhadi. Gak tau mereka itu siapa? Tapi tau siapa itu Farhat Abbas dan Vicki Presetyo? Semoga Tuhan memberkati.

Tapi seperti halnya Tuhan, Dia gak mungkin ngasih duit langsung ke gue dengan tangan dia, gak mungkin! Tuhan ngasih rezeki buat gue ya lewat perantara. Peran itu lah yang juga dilakukan oleh Pandji, Rene dan Edward. Bersyukur hati gue masih terbuka untuk menerima hadirnya sosok muda bernama Anies Baswedan yang dibawa tiga orang tadi. Pertama kali dengar Anies Baswedan memang dari Pandji. Pandji adalah panutan gue dalam berkarya. Tapi opini gue gak murahan, gak bisa seenaknya diubah sama siapapun (termasuk Pandji). Apalagi hak pilih gue.

Saat gue mengenal Anies Baswedan, kejadiannya sama kayak waktu gue tau kalo gebetan gue yang udah punya pacar tiba-tiba putus. Gue senang? Jelas. Tapi gue gak langsung percaya, gue harus mastiin dulu kebenarannya. Saat tau Anies Baswedan dari Pandji, gue senang, ternyata masih ada orang baik yang mau turun tangan, tapi gue gak langsung percaya. Bersyukur gue mulai menghilangkan salah satu kebiasaan  buruk gue: malas nyari info.  Makanya gue cari tau siapa itu Anies Baswedan di twitterwebsite pribadiwikipediarelawan pendukung dan berita-berita terkait beliau.

Ternyata track recordnya bagus. Dia orang baik! Gak punya masalah terkait penculikan aktivis di masa lalu, bencana lumpur-lumpuran yang gak abis-abis, dia juga gak punya televisi sendiri untuk mengiklankan diri seenaknya, dia gak berbulu dada dan suka begadang, dia bukan keteruanan sang proklamator, Dia hanyalah rektor Universitas Paramadina (dan menjadikannya rektor termuda sepanjang sejarah Indonesia), dia hanya orang yang menggerakkan para serjana terbaik negeri untuk mengajar ke pelosok-pelokos Indonesia melalui gerakan Indonesia Mengajar, dia hanya termasuk ke dalam 500 muslim berpengaruh di dunia, 100 tokoh intelektual dunia dan 20 tokoh dunia pembawa perubahan. Dan yang terpenting adalah dia punya keinginan untuk melunasi janji kemerdekaan. Kalo lupa sama janji kemerdekaan apa saja, silakan lihat di Pembukaan UUD 1945. Oh iya ya kan udah gak ikut upacara bendera lagi.

Baru kali ini gue melihat sosok calon presiden yang memberikan gue rasa optimis akan perubahan. Gue merasa Mas Anies itu sosok yang berbeda, dari cara beliau berkampanye (lewat gerakan turun tangan)

Bahkan saat gue liat cara beliau berbicara, hati gue seakan bilang “Nah ini nih yang kita cari! Ini dia orangnya!”

Apalagi saat beliau di Mata Najwa. Dan sekedar informasi, gue ini jarang-jarang kagum sama tokoh yang terjun ke dunia politik. Gue rasa ini saatnya gue berhenti berlaku apatis sama politik. Kalo gue gak mau orang jahat yang ngatur negeri ini, maka saat ada orang baik mau turun tangan ya gue jangan diam aja, harus gue dukung! Maka inilah yang gue lakukan, mendukung dan mengenalkan Anies Baswedan.

Tapi percuma sih kalo lo masih memilih untuk golput.  

Kapan mau ada perubahan kalau kita terus-terusan apatis?

(Tulisan ini udah dipost di blog relawan Turun Tangan: http://relawan.turuntangan.org/author/rifaldi-fathurohman/)