Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Oktober 2016

Lewat Balikpapan atau Tarakan, Pulau Derawan Tetap Menawan

Indonesia itu kaya!

Bagi beberapa traveler, kalimat itu bukan hanya sebuah slogan atau ekspresi justifikasi, tapi memang kenyataan. Kekayaan wisata dan alam Indonesia nggak hanya dinikmati dan diakui oleh traveler lokal tapi juga mancanegara! Dari Sabang sampai Merauke, selalu aja ada hal yang bisa membuat kita jatuh cinta sama Indonesia. Wisatanya, kekayaan alamnya, keramahan masyarakatnya, budayanya, hingga kulinernya begitu beragam sehingga banyak membuat pengunjung terkesan dan mengagendakan ulang kunjungan berikutnya.

Baru-baru ini ada seorang turis Norwegia bernama Audun Kvitland, yang jatuh cinta sama Nasi Padang dan menginspirasinya untuk membuat sebuah lagu dari masakan—yang katanya sederhana—tersebut. Hasilnya? Viral dan bikin heboh dunia maya! Sungguh sebuah strategi marketing yang amat jenius dan tentu tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.

diambil dari thejakartapost.com
Semoga selanjutnya ada bule lain yang hendak membuat lagu bertemakan Tahu Bulat, ya.

Iya, yang limaratusan. Dan digoreng dadakan itu.

Jika orang luar negeri aja jatuh cinta sama Indonesia, masa lo nggak?

Buat yang masih penasaran betapa kayanya potensi wisata dan alam Indonesia tercinta, mungkin bisa segera jadwalkan waktu dan atur budget untuk traveling menikmati betapa indah dan kayanya bumi pertiwi. Salah satu tempat yang layak banget dikunjungi adalah sebuah tempat menawan di Kalimantan Timur.

Saking indahnya taman bawah laut di tempat ini, lo gak bisa bedain antara tempat ini dengan wallpaper kualitas HD yang sering dijadiin desktop background di laptop atau PC. Fakta keren lainnya, tempat wisata ini juga telah didaftarkan menjadi situs warisan dunia UNESCO.

Perkenalkan, inilah Pulau Derawan!

diambil dari ku2h.com

S
ecara geografis, Pulau Derawan letaknya ada di Semenanjung Utara Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tempat wisata ini memang andalannya Kabupaten Berau. Dengan ekosistem bawah laut yang masih terjaga dan cukup indah, Pulau Derawan menawarkan spot diving yang bakal memanjakan mata para penyelam. Mungkin saking jernihnya air di tempat ini, pribahasa sambil menyelam minum air itu lahirnya dari sini. 

diambil dari telusurindonesia.com

Selain ekosistem bawah lautnya yang sangat indah, di Pulau Derawan juga terdapat terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, dan berbagai spesies seperti penyu hijau, penyu sisik, lumba-lumba, paus, kima, serta ikan barakuda. Beberapa diantaranya merupakan spesies yang dilindungi.

Bagi beberapa traveler yang pernah berkunjung ke Pulau Derawan, transportasi menjadi catatan khusus saat kesana karena biaya transportasi yang dikeluarkan gak sedikit, kecuali kalau lo memang masih bagian dari keluarga besar Bakrie. Keterbatasan akses menuju lokasi menjadi salah satu penyebab mengapa biaya transportasi yang dikeluarkan cukup mahal. Pada akhirnya banyak yang menempuh jalur instan dengan memakai jasa tour & travel.

Kalau lo ingin berkunjung ke Pulau Derawan tanpa menggunakan jasa tour & travel, rute transportasi berikut ini bisa dijadikan rekomendasi rujukan. Ada dua pilihan, bisa melalui Balikpapan atau Tarakan, yang pasti keindahan Pulau Derawan akan tetap menawan!

Via Balikpapan
Rute pertama yang bisa lo pilih adalah via Balikpapan. Jika melihat rute penerbangan Kalstar Air, terdapat pilihan flight Jakarta – Balikpapan. Dari Balikpapan, lo harus melanjutkan perjalan menuju Berau dengan pesawat kecil. Estimasi waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Dari bandara di Berau, lo bisa naik taksi atau kendaraan pribadi jenis Kijang menuju Tanjung Batu. Perjalanan darat tersebut menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam. Barulah setelah itu menyeberang dengan menggunakan speedboat untuk sampai ke Pulau Derawan!

Jika dirincikan, berikut prakiraan biaya transportasi yang harus lo keluarkan:
• Tiket Pesawat Jakarta - Balikpapan Rp 750.000
• Tiket Pesawat Kecil Balikpapan - Berau Rp 300.000
• Angkot menuju Tanjung Batu Rp 70.000
• Speedboat Tanjung Batu - Pulau Derawan Rp 50.000
Total Rp1.170.000 (Total biaya satu kali perjalanan)
*harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu

Via Tarakan
Selain melalui Balikpapan, rute transportasi lainnya yang dapat lo pilih untuk ke Pulau Derawan adalah via Tarakan. Dari Jakarta memilih flight Jakarta-Tarakan. Setelah sampai di Bandara Internasional Juwata, Tarakan, lo harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi menuju Pelabuhan Tengkayu (tempat penyeberangan menuju Pulau Derawan). Waktu yang ditempuh dari bandara menuju pelabuhan kurang lebih 15 menit.  

Dari Pelabuhan Tengkayu untuk menyebrang ke Pulau Derawan harus menggunakan speedboat dengan estimasi waktu tempuh sekitar 4 jam. Jika dirincikan, berikut prakiraan biaya yang harus dikeluarkan jika memilih rute transportasi via Tarakan:
• Tiket Pesawat Jakarta - Tarakan Rp 700.000
• Taxi dari Bandara ke Pelabuhan Rp 50.000
• Speedboat Pelabuhan Tengkayu - Pulau Derawan Rp 250.000
Total Rp1.000.000 (Total biaya satu kali perjalanan)
*harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu

Itulah beberapa pilihan rute transportasi dan prakiraan biaya yang harus lo keluarkan untuk menuju Pulau Derawan. Terserah atur aja, mau lewat Balikpapan atau Tarakan? Yang pasti Pulau Derawan tetap menawan!



Catatan seorang kawan,

Rifaldi Fathurrohman.

Temennya Wawan.

Kamis, 22 September 2016

Betapa Inginnya Menjadi Youtuber

Budi, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?

Youtuber, Bu Guru

Apakah zaman tersebut sudah dimulai?

Diambil dari maxmanroe.com
Bukan apa-apa, sekarang saja, selama liputan di DPR yang hampir memasuki bulan kedua, baik dari pemeritahan maupun dari kalangan dewan sendiri, banyak yang secara kinerja gak layak. Banyak jabatan yang ditempati bukan oleh orang yang kapasitasnya cocok. Maka Do’a terbesar gue adalah, semoga suatu saat nanti, ketika generasi Youtubers kayak Young Lex, AwKarin dan kawanannya―yang mana adalah generasi yang sama dengan gue―memimpin Negeri ini, gue sudah berada pada taraf hidup yang nyaman. Sehingga dari jauh bisa bilang “Udah, kelar ini”.

Tapi memang menjadi Youtuber itu secara finansial menjanjikan. Puluhan juta dalam sebulan dan dengan popularitas tinggi, siapa yang nggak pengin? Nominalnya sih gue pengin, tapi urusan terkenal, ntar dulu. Btw, vlogger itu youtuber bukan? Kenapa perdebatan gak penting ini juga harus ada sih. Sejujurnya gue ingin bikin konten di Youtube, mungkin bukan berupa vlog, selain karena kegiatan gue yang kurang menarik untuk diikuti―kalau gak di Kampus ya di DPR―gak kayak Ario Pratomo, atau pemikiran unik dan lucu kayak Adriano Qalbi atau juga cewek secantik Pamela Bowie, juga karena minimnya fasilitas.

Makanya gue ajak temen gue untuk bikin sebuah Channel Youtube. Saat melihat video orang dan merasa bisa bikin yang lebih baik, itu perlu dibuktikan, jangan hanya berhenti di ‘merasa’ saja. Saat ini yang kepikiran baru nama dan skrip untuk video pertama. Selanjutnya? Kita serahkan kepada Tuhan yang Maha Esa, semoga rencana ini tidak berakhir wacana. Kalau kata Adriano Qalbi, salah satu comic favorit gue, “tiap orang itu harus punya output”. Ya, kalau inputnya gue dapat dari sekolah, bacaan atau tontonan, ini akan jadi salah satu output gue. Untuk langkah awal kita sadar bahwa fasilitas juga harus mendukung, tapi karena gak sendiri, dari segi anggaran menjadi agak ringan. Kamera dan shotgun mic sudah siap. Tinggal cari koleksi tripod kamera terbaik, tapi terjangkau.
 

Menurut gue, mencoba berkarya dan terus menambah pengalaman bisa juga berjalan beriringan. Karya bisa dalam banyak artian, pengalaman juga bisa didapat dalam banyak kegiatan. Untuk program ‘Campus Ambassador’ aja sekarang udah banyak banget, salah satunya yang lagi diikuti temen gue yaitu programnya MatahariMall.com. Walaupun di program sejenisnya gue dulu gak sampai graduation, tapi kegiatan semacam itu baik untuk perkembangan, dengan berada di lingkungan positif penuh inspirasi dan bisa bertemu orang-orang hebat. Ternyata, MatahariMall.com juga punya koleksi tripod kamera terbaik, bisa jadi pertimbangan dalam memenuhi penyediaan sarana bagi mereka yang hendak menjadi Yucuber, maksudnya Youtuber.

Kegiatan lain yang sedang gue jalani, dan rasanya selalu mengingatkan gue akan pencapaian adalah sebuah video project juga, bantuin Gloria Morgen. Isinya berupa interview selama kurang lebih 10 menit dengan beragam pertanyaan kepada anak muda yang sukses. Profesinya beragam, ada pemuda 21 tahun seorang investor dan pebisnis di bidang property, ada juga penulis yang karyanya baru saja di-film-kan, terakhir yang kita interview adalah seorang duta pendidikan dunia, dan banyak lainnya. Tiap kali interview perasaan yang sama gue dapat seperti saat nonton timnas U-19 menjuarai Piala AFF  di tahun 2013, saat itu umur gue pun sama dengan umur para pemain. Gila, mereka udah pada jura. Gue masih disini aja. Ohya, nama Channel Youtube-nya Beejoy Factory, jangan lupa likes, comment, subscribe!

Gitu kan cara promo Channel Youtube tuh?

Hehehe.


Minggu, 21 Juni 2015

Naik Naik Ke Puncak Gunung

Tinggi gunung memang masih sama, tinggi sekali. Tapi sekarang kanan dan kirinya gak selalu pohon cemara, kadang ada pohon pinus, pohon jati, terkecuali pohon maaf lahir dan batin. Maaf plesetan.

Ini contoh yang kirinya danau, kanannya sampah.
Dua minggu kemarin gue baru abis dari gunung, melelahkan sih tapi setelahnya bikin mikir "abis ini mau gunung mana lagi, ya?”. Capek karena pas berangkat gue gak tidur sama sekali, cuma mejamin mata selama perjalanan dalam bis. Susah banget mata gue diajak kerjasama, padahal jarak yang bakal gue tempuh setidaknya 7,8 Km (sampai lokasi perkemahan) atau selama 3,5 jam menurut situs resmi Dephut—yang pada kenyataannya gue butuh waktu dua kali lipatnya. Tapi untungnya gue bisa sampai, walaupun sempet tertidur pas istirahat di salah satu pos yang kita lewati.

Bisa-bisanya gue naik gunung tanpa tidur di malam sebelumnya, karena di momen lain gue pernah ada jadwal kuliah pagi. Malamnya gue tidur cuma 3 jam, tapi susah bangunnya minta ampun. Padahal jarak dari Kost ke Kampus gak lebih dari 10 menit pakai motor, gak sejauh dan secapek naik gunung lah pokoknya. Dan saat itu gue menyerah, memutuskan untuk lanjut tidur ketimbang masuk kuliah. Dari 2 kejadian di atas, kesimpulan apa yang bisa jadi solusi agar walaupun gue kurang tidur masih sanggup pergi ke Kampus? Gue kuliahnya di puncak gunung!

Satu hal yang gue tahu soal naik gunung adalah naik gunung bukan situasi yang pas untuk mengobrol. Karena menurut gue—dari pengalaman, saat kondisi lagi capek, mengeluarkan suara hanya akan menambah rasa capek itu. Di awal perjalanan obrolan-obrolan ringan mungkin masih bisa terdengar, namun begitu masuk setengah perjalanan, saat tenaga mulai terkuras suasana akan sunyi se-sunyi-sunyi-nya. Obrolan yang keluar paling:

Orang pertama: “Eh mau istirahat dulu gak nih?” → capek dan inisiatif
Orang kedua: “Dikit lagi deh, di depan” → capek tapi gak mau ngaku
Orang ketiga: “Udah lah disini aja” → capek dan ngaku
Orang kedua: “Yaudah deh” → akhirnya ngakuin juga

Tapi walaupun lagi naik gunung, para pendaki gak meninggalkan ciri khas Indonesia yaitu keramahannya. Mau kenal atau nggak, mau capek banget atau lelah sekali ketika saling berpapasan selalu nyapa satu sama lain. Setidaknya dengan bilang “Mari bang..” yang lalu dijawab “Iyaa bang..”. Ada juga yang sampai ke tahap basa-basi kayak "Naik gunung, Bang?", ya masa harus pura-pura gue jawab "Hah ini jalan ke gunung ya? Waduh salah jalan saya, tadinya mau ke mall".

Kalau diperhatikan lebih detail lagi, selalu yang nanya lebih awal adalah pendaki dari arah puncak (atau yang mau turun). Saat perjalanan gue menuju puncak menyisakan ¼ jarak lagi, kondisi gue udah masuk ke tahap rutin-banget-lihat-ke-arah-depan-atas sambil mikir “Wah langitnya udah mulai kelihatan tuh, dikit lagi nih” beberapa meter kemudian langitnya ketutup pepohonan lagi “kampret”. Di situasi seperti itu gue ketemu rombongan yang akan turun, persis, mereka yang nyapa gue lebih dulu “Yo bang, semangat..” biar gimana pun juga sunnah muakad hukumnya buat gue jawab “Ya bang..”.

Orang kedua.. ketiga.. lewat dengan ngasih semangat yang serupa, pengen banget rasanya gue jawab “Iyaa semangat, elo enak jalannya turunan semua, lah gue?!”. Berasa ditipu langit berkali-kali, yang sesaat tergambarkan kalau puncak itu di depan sana tapi kemudian hilang, akhiirnya gue tanya pendaki lain yang menuju ke arah turun. Ini memang jarang terjadi, gue yang nanya duluan.

“Bang..”
“Iya semangat, Bang!”
“Iya iyaa, ini udah semangat banget kok. Puncak masih jauh ya?”
“Bentar lagi kok, paiing setengah jam lagi, semangat!”
“Oh, makasih ya!”

Mendengar itu gue benar-benar semangat—bukan sekedar basa-basi lagi. Setengah jam berjalan, puncak masih belum kita injaki. Gue masih husnudzon, mungkin meleset dikit, paling beberapa menit lagi. Setengah jam kemudian, masih belum juga. Baru setelah 1,5 jam sejak gue nanya pendaki tadi, puncak gunung berhasil gue injaki. Saat itu gue sadar kalau manusia itu tempatnya salah dan khilaf, jauh dari kata sempurna. Termasuk untuk mengukur waktu tempuh. Walaupun sempet kepikiran juga, gue turun lagi terus nyamperin pendaki tadi dan bilang “Bang, katanya setangah jam doang sampe puncak, mana?!”, tapi itu hanya akan membuang-buang waktu.

Sampai puncak, gue seolah dikasih kesempatan bernafas dengan bebas. Untuk sementara gue terbebas dari keharusan berjalan di atas tanah berkontur bebatuan terjal yang menanjak dengan berkali-kali bertemu dengan pendaki lain—yang bisa saja ngasih info sedikit meleset. Sekarang yang harus gue dan teman-teman pikirkan adalah bagaimana mendirikan tenda, memasak dan tidur dengan nyaman hingga bangun besok pagi. Semuanya berjalan dengan lancar, besoknya dari puncak Gunung Gede gue bisa menikmati keindahan alam sekitar—yang pastinya gak lupa gue abadikan.

Villa.. Villa..
Hingga tiba saatnya gue dan teman-teman turun gunung. Gue begitu excited.
Yeaaah! Ini saatnya giliran gue nyemangatin mereka yang naik! HAHA!

Sambil jalan turun gue pun menyiapkan jawaban-jawaban jika nanti ada yang bertanya Bang, puncak masih jauh ya?”. Jawaban bisa disesuaikan tergantung dari motivasi kita atau respon mereka yang diharapkan, misalnya:

§  Jika kita berharap mereka realistis dengan sisa jarak tempuhnya, maka kita jawab dengan jujur:
Wah masih jauh bang, ada lah sekitar 2-3 jam lagi”.
Walaupun bisa saja mendengar jawaban ini, semangat mereka menurun.
Yah, masih jauh ya ternyata”.
§  Jika kita berharap mereka jadi tambah semangat dengan sisa jarak tempuhnya, maka kita jawab berbohong aja:
Dikit lagi kok bang, paling sepuluh menit lagi juga nyampe
Tapi hati-hati aja kalau ketemu dia lagi. Bisa ditimpuk pakai carrier.

Tapi berhubung gue ini benci banget sama koruptor dan ingin korupsi hilang, makanya gue mulai membiasakan diri berkata jujur dari diri sendiri dan dari hal terkecil—termasuk situasi di atas. Dengan memegang prinsip Qulil haqqo walau kaana murron, gue memutuskan akan menjawab pertanyaan Bang, puncak masih jauh ya?dengan sejujurnya walaupun itu pahit. Gue akan jawab dengan:

“Wah puncak ya bang? Masih jauh bang, jauh banget. Yakin kuat gak? ya kalo saya boleh kasih saran sih mending sampai sini aja bang, apa mau ikut kita turun aja yuk?”

Gitu lah kira-kira.

Begitu gue mulai jalan turun, gue mulai melihat-lihat dari kejauhan pendaki lain buat dijadikan target man. Satu rombongan terlihat, begitu berpapasan seketika gue bilang “Bang, ayoo semangat!”, mereka cuma jawab dengan pelan “Iyaa..”. Haha! Menyenangkan rasanya.
Hidup itu berputar. Ada kalanya lo di perjalanan naik gunung, ada kalanya juga giliran lo yang turun gunung.
Pokoknya tiap ketemu pendaki yang naik, gue selalu nyemangatin mereka sambil berharap ujungnya mereka bertanya “Bang, puncak masih jauh ya?”, agar jawaban yang udah gue siapkan bisa gue keluarkan.

Begitu ketemu pendaki lain dan gue sapa, dia gak nanya jarak menuju puncak.
Ketemu pendaki berikutnya... sama.
Ada lagi rombongan... gak ada satu pun yang bertanya.
Ketemu sama pendaki cewek—yang gue kira dia udah cukup capek dan bertanya, dia malah nyemangatin balik “Ya bang, semangat juga!

INI GAK ADA YANG MAU NANYA JARAK KE PUNCAK, APA YA?!

Akhirnya gue memutuskan, gue sendiri yang harus inisiatif:

Bang, bang, gak penasaran jarak dari sini ke puncak apa? Ayo lah tanyain! Saya tau jawabannya nih”.

Dia jawab:

Oh kalau itu saya udah tau bang. Dari sini ke puncak itu jaraknya 3,5 Km, kalau kita jalan standar itu butuh waktu 1,6 jam, nah kalo jalannya cepet tanpa berhenti 1 jam juga sampe, tapi kalo banyak istirahatnya bisa makan waktu 3 jam sampe puncak, gitu bang

BUSET! DIA PETUGAS TAMAN NASIONAL TERNYATA!!!

Hingga gue sampai di pos awal pendakian, jawaban yang gue siapkan untuk membalas orang-orang yang menuju arah turun saat gue naik pun gagal gue keluarkan. Gue baru ingat sama salah satu Hadist Riwayat Bukhari yaitu “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam”.

Subhanallah ya.

Rabu, 06 Agustus 2014

Sekedar Cerita Tentang Kampung

Ini bukan sok-sok menyengajakan menulis tentang kampung setelah momen mudik kayak gini, hanya saja tulisan tentang kampung ini udah lama tersimpan di folder ‘Documents’ laptop. Jadi itung-itung menambah entri blog, lebih baik gue selesaikan dan post, daripada dipindahkan ke ‘Recycle Bin’.

Ngomongin soal kampung, mungkin sebagian besar dari kalian akan langsung merujuk pada tempat dimana orang tua kalian lahir, atau tempat tinggal Kakek-Nenek bahkan buyut kalian. Tapi buat gue, kampung itu adalah lokasi rumah gue, tempat gue berkembang sampai sekarang.

Saat lo mengisi identitas diri, pada kolom alamat, kata yang ditulis paling awal hampir pasti adalah “Jalan” atau disingkat “Jl.” lalu beberapa kata setelahnya diikuti “Kelurahan”. Berbeda dengan gue, kata yang selalu gue tulis paling awal adalah “Dsn.” Kependekan dari “Dusun”, dan setelahnya ada kata “Desa”.  Sedikit menggambarkan lokasi rumah gue?

Kalo membahas tempat tinggal, ingin rasanya gue berterima kasih kepada orang yang pertama kali membuat tahu. Karena berkat popularitas Tahu Sumedang, saat gue menjawab pertanyaan “Rumah lo dimana?”, dengan menjawab “Sumedang” saja udah selesai, dan untuk memastikan, si penanya cukup dengan memberikan clue “Oh, tahu ya?” yang perlu gue iya-kan.

Sayangnya sampai sekarang pembuat Tahu Sumedang pertama kali, belum bisa dipastikan.

Sumedang memang tercatat sebagai sebuah kota, kabupaten sih lebih tepatnya. Tapi untuk dianggap sebagai sebuah kota, Sumedang ini terlalu sepi. Makanya disebut ‘Kota leutik campeurnik’ yang berarti kota kecil yang cantik. Kalo Sumedang saja dianggap kota kecil, bagaimana dengan lokasi rumah gue yang masih berjarak 15 Km dari pusat kota Sumedang?

Namanya Rancakalong. Sebuah tempat yang (setau gue) cukup banyak terjadi pernikahan usia muda–karena sebagian yang melakukannya adalah temen SMP gue. Daerah ini hampir pasti tidak pernah terjadi macet–gue gak berani bilang ‘pasti’ karena setiap menjelang dan setelah lebaran selalu ramai dengan kendaran mudik karena dijadikan jalur alternatif. Dan jangan kaget kalo sewaktu-waktu lo masuk ke Rancakalong dan melihat pengendara motornya gak pakai  helm, karena memang helm digunakan hanya ketika mau pergi ke kota saja, itu pun sebagai pemenuhan syarat peraturan berlalu-lintas supaya gak kena tilang, bukan untuk pengaman kepala.

Yang paling menjadi ciri khas dari Rancakalong adalah suara knalpot motor. Entah kenapa sepertinya para pemuda Rancakalong menganggap bahwa sebuah motor hanya akan melaju jika knalpotnya diganti dengan knalpot yang bersuara kencang, seolah-olah kehadiran knalpot berisik ini jauh lebih penting daripada sepasang ban. Dan sepertinya sangat disayangkan kalo kehadiran knalpot itu dibiarkan begitu saja, makanya terdapat perbedaan cara menarik gas dengan motor pada umumnya, yang mana pengendara motor berknalpot berisik lebih sering menarik gasnya.

Jadi jangan heran kalo di Rancakalong, lo lebih dulu denger suara motornya dan 5 menit kemudian baru motornya lewat. Tingkat kreativitas di sini diukur dengan tingkat suara knalpot, ‘makin kencang suara knalpot motor anda maka semakin kreatif-lah anda’.

Di Rancakalong, motor lah yang berperan sebagai sarana hiburan. Manaiki motor sore-sore terlihat sangat mengasyikan, sekalipun tanpa tempat tujuan. Anak SD umur 9 tahun udah bisa bawa motor, orang tuanya pun sangat antusias untuk mengajarkan anaknya nyetir motor. Seolah-olah adalah keharusan mempunyai anak yang bisa nyetir motor, padahal yang lebih penting adalah membayar cicilan motornya hingga lunas.

Lahir dan tinggal di kampung bukan hal memalukan buat gue. Lagian kampung itu bagus, disana masih ada adat yang jadi ciri khas Indonesia, yaitu ramah-tamah. Sesama tetangga menganggap saudara, yang terkadang berbagi makanan atau hal lainnya. Gotong royong pun masih sangat kuat. Warganya punya rasa memiliki akan daerahnya sendiri, tidak sebatas tempat mengusir lelah setelah seharian mengejar duniawi. “Dengan nilai-nilai positif yang dimiliki kampung seharusnya kata ‘kampungan’ itu bermakna positif” itu kata Mamang gue. Dan gue setuju.


Gue emang kampungan.

Selasa, 03 Juni 2014

Ketika Stasiun Sudirman Berpindah Tempat


Seneng rasanya saat menulis notes ini, karena sekarang saya telah menjadi bagian dari Young On Top Campus Ambassador Batch 5. Setelah melakukan first meeting beberapa waktu lalu, saya semakin antusias mengikuti event-event selanjutnya, salah satunya adalah YOTWalk. YOTWalk adalah kegiatan lari pagi di Car Free Day Sudirman-Thamrin sambil membantu membersihkan lingkungan yang dilalui.

Minggu 1 Juni 2014 tepat Pukul 4.30, saya sudah bangun. Sore hari sebelumnya, saya melakukan perjalanan Sumedang – Depok demi ikut YOTWalk.

Dan rasa salut saya tujukan untuk Young On Top, karena pada pukul 5.00 pagi telah mampu membuat saya berada di Peron Stasiun UI, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi.

Dengan memakai running shoes, pakaian olahraga dan jaket saya siap berlari!

Sambil menuggu kereta datang, saya membayangkan keseruan yang akan terjadi, karena saya rasa akan banyak CAs baik dari batch 4 dan 5 yang hadir. Tekad saya adalah mengalahkan kecepatan lari Mas Anggia yang berbadan kekar dan Mas Billy Boen –yang katanya pernah lari marathon 21 Km di berbagai ajang di luar negeri– itu. :D

Kereta pun datang, isinya jelas hampir kosong, siapa juga yang hari minggu mau-maunya naik kereta hanya untuk menuju lokasi lari, selain orang-orang freak. Haha!

Stasiun demi stasiun telah dilewati, saya menunggu sampe terlihat tulisan “Stasiun Sudirman”. Karena dari sana cukup naik Transjakarta saja untuk sampai di lokasi meet point  di Bunderan HI.

Cukup lama berhenti di stasiun Manggarai, karena disana adalah titik temu antara berbagai rute KRL. Saat itu terdengar “Selamat datang di Stasiun Manggarai, bagi anda yang menuju Tanang Abang silahkan transit, pastikan anda tidak salah rute”. Kebetulan kereta yang saya tumpangi adalah KRL rute Jakarta Kota dan saya tetap duduk tanpa ganti kereta.

Setelah beberapa stasiun terlewati, kereta berhenti di Stasiun Gambir, “Ini kok Stasiun Sudirman lama banget ya, padahal perasaan saya hanya berjarak 2 stasiun setelah Manggarai".

Dalam ingatan saya Stasiun Sudirman itu berada di rute Jakarta Kota. Dan saya yakin banget itu. Tapi ternyata...


INI SIAPA YANG MINDAHIN STASIUN SUDIRMAN, WOY!!!

Saya salah naik kereta, teman-teman.

Saya sedih dan pengen nangis.


Akhirnya saya sms Kak Sherly (sebagai PIC) "Kak, Aku salah stasiun. Mungkin ikut YOTWalk selanjutnya aja :(".

Saya memutuskan untuk lari di Kota Tua, karena memang rencananya setelah selesai YOTWalk saya mau ke Kota Tua untuk bertemu teman saya. 

Di Kota Tua tepatnya di Taman Fatahilah, banyak sampah berserakan. Mungkin karena semalamnya adalah malam minggu jadi ada keramaian. Tapi tetap gak bisa dimaafkan juga sih untuk yang terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya.

Saya bingung mau lari dimana, di jalan sekitarnya pun tidak memadai, belum lagi bau sampah dan bau sungai Ciliwung itu bukan kolaborasi yang pas.

Orang-orang pun mungkin aneh melihat saya, "Ini orang kok lari di sini sih". Dan saya lihat tidak ada orang lain yang sedang lari, kecuali saya. 

Saya pengen nangis (lagi).


Pukul 8.00 saya selesai lari (sewajarnya). Lalu mencari kantin, karena sudah sangat lapar. Sambil ngasih tau teman kalo saya sudah di Kota. Lama sekali menungu balasan teman saya, kayaknya dia masih tidur. Saya memesan kopi sekalian supaya ada alasan untuk berlama-lama di kantin itu.

Kopi habis. Saya pun membayarnya dan pergi, karena sudah hampis sejam berada di sana.

Sambil menunggu teman datang.. keliling Taman Fatahilah 2x puteran, masuk toilet 1x, beli koran, masuk Alfamart & beli minum, duduk depan Alfamart.

Dia gak datang-datang juga.

Saya pengen nangis (lagi)(lagi)


Pukul 10.00 Waktu Indonesia Paling Sial, teman baru datang.


Moral of Story..

Pertimbangan harus matang. Pengetahuan harus luas. Sebenarnya saya masih ada waktu untuk kembali ke Stasiun Sudirman. Dan kalo saja saya tau bahwa sebenarnya dari Kota ke Bunderan HI itu bisa dengan naik Transjakarta. 

Jangan terlalu yakin, karena kebenaran belum tentu sama dengan yang kita yakini.

Antusiasme saja tidak cukup.

Malu bertanya sesat di kerata.



Sabtu, 08 Maret 2014

Dibalik Debat Capres Partai Demokrat - Bogor

Hari Minggu, 2 Maret 2014 adalah kali pertama gue berkesempatan untuk datang langsung pada debat capres Partai Demokrat yang diadakan di Puri Begawan, Bogor. Setelah pada konvensi-konvensi sebelumnya gue hanya melihatnya dalam bentuk video, itu pun sebatas jalannya debat. Tetapi ketika gue datang menyaksikan langsung, yang gue lihat bukan hanya jalannya debat tapi semua yang terjadi dibalik debat. Dan itulah yang akan gue ceritakan di postingan kali ini.

Cristiano Ronaldo pun ikut berkampanye.
Begitu memasuki Kota Bogor, gue dan teman-teman relawan Depok disambut dengan berbagai spanduk dari para peserta konvensi di sepanjang jalan menuju Puri Begawan. Sakit mata gue melihat spanduk yang sama dengan jumlah banyak dan berjarak hanya 3 meter antar-spanduknya. Entah apa pesan yang ingin disampaikan. Tapi begini ya Pak Capres..

Ukuran dan banyaknya spanduk yang anda pasang, tidak akan memperbesar peluang anda terpilih. Karena yang akan kami pilih adalah Pemimpin, bukan Perusak Pohon. 

Hanya dua orang peserta konvensi yang tidak terlihat satu pun spanduk dirinya yang terpasang, Pramono Edhie dan Anies Baswedan. Tepuk tangan untuk mereka dong!


Sampai di depan gedung Puri Begawan, tempat berlangsungnya debat capres partai demokrat (yang memiliki warna dominan biru), tapi saat itu yang terlihat adalah orang-orang dengan kaos warna merah lebih dari 100 orang. Apakah itu kader PDIP yang salah tempat? Bukan, ternyata mereka adalah para Relawan Turun Tangan-nya Anies Baswedan!

Ada 11 orang capres yang mengikuti konvensi PD. Dan semuanya memiliki pendukungnya sendiri yang juga ikut hadir disana, yang membedakan antar-pendukung adalah kaos, atribut yang dibawa, yel-yel, semangat, antusias, umur dan background pendukung dan tujuan mendukung. Berbeda dengan pendukung capres lain yang memakai kaos berwarna putih-biru, warna merah-putih mendominasi kaos yang dipakai relawan turun tangan. Tidak menghargai Partai Demokrat sebagai penyelenggara konvensi? Nggak lah, orang gak ada aturannya. Ini hanya membuktikan kalo kita punya pilihan, kita memilih merah karena mencerminkan keberanian dan semangat kita.

Kita tidak datang dengan tangan kosong, ada macam-macam atribut yang kita bawa, yang sengaja dibuat untuk meramaikan jalannya debat dan dengan biaya dari kantong celana kita sendiri. Mungkin anda juga bertanya "Apakah pendukung capres lain melakukan hal yang sama?" Gue jawab dengan senyuman dulu deh ya, hehehe kaos aja ada yang baru dibagikan sesaat sebulum debat dimulai. hehehe (senyum lagi)


Selagi menunggu para peserta debat dan presiden datang, sambil berdiri di pinggir jalan dan memegang atribut, kita sesekali memamerkan yel-yel bikinan kita. Agak jauh dari tempat kita berdiri, ada beberapa pendukung capres lain yang lagi duduk dan menyender. Saat itu gue mencoba menerjemahkan raut muka mereka saat melihat antusias relawan turun tangan. Mungkin mereka heran terhadap kita "Ini yang kaos merah kok semangat amat ya, bayarannya gede kali ya". Beberapa dari mereka ada yang mengendong bayinya, seorang teman relawan menebak perkataan ibu tersebut pada bayinya: "Nak, kamu jangan nangis ya, karena kalo kita gak dateng kesini kamu gak akan bisa minum susu". Kurang lebih begitu.

Begitu Mas Anies Baswedan datang, kita sambut dan antarkan beliau memasuki gedung dengan teriakan "Kita relawan! Bukan bayaran!", berulang-ulang.


Pundukung lain juga tidak kalah rame menyambut capres pilihannya, walaupun hanya dengan teriakan dan tepuk tangan. Padahal kalo pun mau memakai tagline milik kita juga boleh-boleh aja sih, tapi sedikit diubah jadi "Kita bayaran! Bukan relawan!". Begitu.


Ketika debat akan segera dimulai, ternyata gak semua yang datang diperbolehkan masuk melihat langsung jalannya debat. Beberapa dari kita hanya bisa menonton melalui televisi yang disediakan, itu pun tidak ada suranya. Jadi ketika Pak SBY memberikan sambutan, kita menerka-nerka perkataan beliau melalui gerak mulutnya, alhasil ketika beliau mengatakan 'Untuk kita semuanya!" kita mengira beliau bilang "Buset ada buaya!". Tapi walaupun begitu, kita tetap berada dalam gedung dan mencari cara untuk bisa mengikuti jalannya debat. Mulai dari menelpon relawan yang ada di dalam dan me-loudspeaker-kan handphone-nya biar terdengar suara tiap capres, sampai ada yang mengajak iuran untuk membeli TV Phone murah. Saat itu kita hanya meilhat satu-dua pendukung capres lain, sisanya tersebar di warung-warung sekitar Puri Begawan, tapi kaos yang baru mereka terima tidak dilepas. Karena mungkin ada tugas mereka satu lagi sebelum mendapat bayaran: mengantar capres yang didukungnya meninggalkan gedung.

Setelah beberapa lama debat dimulai, akhirnya kita bisa bergantian masuk ke dalam ruangan debat. Di dalam, suasananya rame sekali. Tiap pendukung mempunyai jatah tempat duduk yang sama, tapi di bagian belakang yang tidak ber-tempat duduk, seperti biasa dipenuhi gerombolan berkaos merah.


Setiap Mas Anies selesai berbicara, teriakan dan tepuk tangan selalu kita lakukan. Hal yang sama tidak dialami oleh peserta konvensi lain. Mungkin SBY dan Bu Ani yang hadir di sana juga bergumam "Ini pendukungnya Anies banyak banget!". Untuk tahu jalannya debat, tinggal klik di sini. Beberapa capres mengaku kagum terhadap kebijakan pemerintah SBY dan akan meneruskannya jika terpilih nanti. Bahkan Dahlah Iskan diakhir pembicaraannya berkata "Lanjutkan!" Gue tidak yakin hal itu tetap akan mereka lakukan jika SBY tidak hadir di debat capres hari itu. Anies Baswedan saat itu dipercaya untuk mengakhir debat dengan closing statement. Gue rasa ini bukan kali pertama Mas Anies menutup suatau acara, di Mata Najwa dan mungkin di debat-debat sebelumnya juga pernah atau bahkan selalu. Karena apa yang beliau ucapkan memang selalu begitu luar biasa. Mas Anies juga mengingatkan SBY bahwa saat Pak SBY menjadi capres yang menjadi moderator debatnya adalah Anies Baswedan (yang sekarang menjadi capres).

Melihat pendukung capres lain, sebenarnya kita iri. Begitu break mereka mendapat konsumsi nasi kotak. Tapi kita relawan bukan bayaran, makanya kita rela bayar semuanya sendiri, termasuk untuk makan.

Karena hadirnya kita ke konvensi adalah untuk mendukung Anies Baswedan, bukan untuk mendapatkan uang jajan.

Begitu debat selesai, ketika pendukung capres lain meninggalkan ruang debat, kita menghampiri Anies Baswedan sambil menyanyikan yel-yel hingga ke pintu utama, karena semua peserta konvensi akan rapat tertutup dengan SBY.


Kira-kira 30 menit menunggu, akhirnya satu persatu capres keluar dan meninggalkan Puri Begawan, tiap capres yang lewat kita sapa dengan hormat, bahkan ketika Pak Gita lewat dengan kompak dan senyum kita bilang "Dukung Mas Anies ya Pak". Gue menduga yang ada dalam hatinya Pak Gita saat itu "Pala lu!". Dan akhirnya Mas Anies Baswedan pun keluar, tapi beliau tidak bisa langsung meninggalkan tempat begitu saja, karena disambut hampir seratus relawan dan beberapa wartawan. Beliau pun menjawab beberapa pertanyaan wartawan dan memberikan wejangan buat para relawan dengan diakhiri ajakan untuk menyanyikan lagu Padamu Negeri. Entah kapan lagu itu terakhir kali gue nyanyikan, yang jelas saat itu mata gue berkaca-kaca. Hingga saat Pak SBY meninggalkan Puri Begawan, lagu itu masih kita nyanyikan.


Sekitar pukul 20.30, kita meninggalkan Puri Begawan. Beberapa relawan tidak langsung pulang ke rumah masing-masing, tapi kita makan malam dulu bersama Mas Anies.

Beruntung banget yang duduk satu meja.
Setelah makan, kita membacakan janji relawan turun tangan dan ada beberapa relawan yang memberikan kesan dari kegiatan kita hari itu, diantaranya relawan asal Aceh dan Papua yang sengaja datang ke Bogor untuk mendukung Mas Anies. Keren!

Lalu, karena mengejar jadwal pesawat, relawan asal Papua itu pamit untuk pulang dan menyalami kita satu per satu, kita semua melepasnya dengan menyanyikan lagu Tanah Air. Kali ini mata gue lebih dari sekedar berkaca-kaca.


Yang menarik pada saat itu adalah Mas Anies Baswedan membahas hal yang tidak biasa, yaitu soal cinta. Iya, cinta. Intinya, menurut Mas Anies ada yang salah ketika seseorang mengatakan "I Love You Full". Mendengar penjelasannya gue ketawa lepas, bisa-bisanya Mas Anies ngomongin itu. hahaha. Nanti akan jadi sebuah sejarah, ada presiden RI yang bikin gue ngakak karena pembahasannya tentang cinta. 

Gue ketawa ngikik sambil tepuk tangan.
Mau tau apa yang Anies Baswedan katakan? Rahasia~ Ini khusus untuk relawan turun tangan. Makanya, Yuk ikut turun tangan!



Berita terkait:
Republika - Relawan Anies Baswedan Meriahkan Konvensi Partai Demokrat

Video terkait:

Senin, 06 Januari 2014

Catatan Seleksi Tahap Akhir MRCA Batch2

Sebelumnya kalo belum tau apa itu MRCA mending baca dulu disini dan gue akan pastikan dulu bahwa di postingan ini gue gak akan jadi spoiler untuk seleksi batch-batch selanjutnya. Cukup gue aja yang tau harus ngapain di seleksi batch 3 nanti. Karena ternyata, hasilnya gue nggak lolos. Tapi dari 3000 pendaftar, masuk 200 besar adalah kabar baik untuk orang kacrut kayak gue ini.


Gue datang telat, waktu itu. Alasannya karena waktu dimulainya acara sama dengan waktu selesainya UTS di kampus. Belum lagi jalanan macet dan gue hanya bermodal GPS menuju Central Park. Sampai tiba di dalam Central Park pun gue nyasar. Sial, arsitek Central Park itu maunya apa sih?!

Datang setelah makan siang membuat gue merasa ketinggalan untuk meyakinkan kalo gue berhak lolos MRCA depan Merry Riana dibanding peserta lain yang datang tepat waktu. Alhasil, saat Miss Merry nanya “Siapa disini yang merasa punya skill unik yang tidak peserta lain miliki?” Gue pun naik ke stage dengan segera:
(foto diambil oleh Jojo-alumni batch1 dan founder inspiratorfreak.com)
Bukan nyanyi yang gue lakukan waktu itu, bukan juga breakdance. Gue bilang ke Miss Merry kalo gue cuma mau bercerita (padahal standup). Gue bilang “Nama saya Rifaldi, saya adalah mahasiswa Gunadarma. Tapi sebelumnya saya pernah kuliah di IPB. Saya hanya butuh waktu 1 tahun untuk lulus dari IPB”, peserta yang lain terlihat kagum, lalu gue tambahkan “Tapi tanpa IJAZAH! Karena saya ngundurin diri”. Terdengar beberapa orang tertawa, tapi itu gak penting, yang penting adalah Miss Merry Riana juga ketawa. Hihihi dan beberapa bit tentang IPB juga gue sampaikan.

Jadi jelas kan kenapa Merry Riana nggak meloloskan gue? Mungkin secara gak langsung dia bilang “Mending kamu masuk SUCI aja sana!” Hehehe Seenggaknya sebelum standup depan Om Indro dan Raditya Dika, gue pernah standup depan Merry Riana.

Secara umum, yang lo butuhkan saat seleksi tahap akhir ini adalah NGOMONG. Pubic speaking dan mental akan sangat membantu lo untuk lolos. Mungkin untuk yang terbiasa ngomong di depan umum, seleksi ini adalah hal yang sangat ringan buat dia. Begitu juga untuk orang bermental baja alias gak malu-malu (atau juga gak tau malu), karena dia akan dengan PD-nya berbicara depan Miss Merry dan yang lainnya, itu bagus. Apalagi yang punya keduanya (public speaking dan mental), kemungkinan lolos akan makin besar.

Gue heran, kebanyakan dari 200 peserta tahap akhir ini pada berteriak “Saya ingin jadi The Next Merry Riana”. Jujur gue sih nggak mau, ya bayangin aja masa gue harus pake rok kaya Miss Merry. Haha jayus ya gue. Tapi serius deh, gue gak atau apakah maksud dari The Next Miss Merry itu artinya pengen mirip dia, atau sebatas ingin sesukses dia. Kalo pengen mirip dia, mending pikir-pikir lagi deh ya. Karena lo nggak mungkin bisa lebih Merry Riana daripada Miss Merry-nya sendiri.

Tapi yang gue salut dari ke-200 peserta itu adalah semangat dan antusiasnya. Gila kalo suasana kelas kuliah gue diisi mereka2, bakal cepet berkembang gue. Bahkan setelah selesai acara pun mereka ingin tetap berkomunikasi. Makanya ada grup yang sengaja dibikin di berbagai sosmed untuk mengumpulkan kita. Karena kita yakin bahwa kita adalah orang-orang terpilih yang akan menjadi hebat kalo mau bergerak bersama. Beberapa hal yang bisa gue petik dari mereka adalah:

  • Mereka sangat semangat dan antusias
  • Mereka optimis menjadi 60 orang yang terpilih
  • Tapi, Mereka siap kalo seandainya nggak terpilih
  • Mereka percaya kalo lingkungan itu menentukan karakter dirinya
  • Mereka nggak nunggu peluang, tapi menciptakannya

Beberapa tweet finalis yang memperlihatkan antusiasme mereka:

Dan ini tweet saya:


Tapi, bukan berarti elo yang gak masuk atau nggak ikut event ini adalah bukan orang hebat. Bisa aja saking hebatnya elo, acara MRCA ini lo anggap bukan level elo. Karena kita finalis MRCA2 pun merasa biasa-biasa aja,  tapi kita punya keinginan. Makanya kita mau nyari kesempatan, bukan terus nunggu kesempatan itu datang. Gak semua yang masuk tahap akhir itu mahasiswa pinter kok, buktinya gue aja masuk.

Gue salut sama Miss Merry Riana. Di akhir acara, setelah hampir seharian berbicara, dia masih menyanggupi saat diminta untuk foto bareng dan ngasih tanda tangan. Hampir semua finalis memintanya. Gue juga kepikiran sih buat foto bareng, tapi selain kasian sama Miss Merry yang gue liat udah kecapean, gue juga berpikir “foto itu untuk apa?” paling cuma buat nunjukin kalo gue udah ikut acara ini dan gue udah ketemu langsung Merry Riana. Gue mencoba menghindar dari sifat pamer kayak gitu sih. Lagian denger omongan Merry Riana aja udah bikin gue termotivasi kok.

Gue yakin kok kalo untuk jadi orang hebat itu gak harus masuk MRCA. Karena finalis kemarin aja ada yang gak tau kaidah follow-memfollow di twitter, karena dia masih minta follback. Hahaha

Jumat, 27 Desember 2013

Jadi Kakak Lagi

Kamis, 3 Oktober 2013 adalah hari ketika muncul lagi seorang manusia yang akan manggil saya dengan panggilan “Aa Ifal”. Dialah adek kedua saya, seorang perempuan. Sebuah kelamin yang dinanti-nantikan sama mamah saya. Disaat saya udah 19 tahun dan adek pertama saya (Fauzi) udah 13 tahun lebih dulu tinggal di dunia, agak kejauhan memang jarak usianya. Tapi inilah kebahagian, sebuah perasaan yang gak ada batas waktunya. Keren kan?

Beberapa hal enak yang saya rasain menjadi anak pertama adalah:

Kita tidak dibebankan memiliki kelamin tertentu. Namanya anak pertama ya se-dikasihnya Tuhan aja. Cowok oke, cewek gak masalah. Beda lagi sama anak kedua, orang tua biasanya ingin punya anak sepasang. Jadi yang kedua dibebankan punya kelamin yang berbeda dari anak pertama. Itulah yang di alami adek pertama saya. Uzi tadinya diharapkan berkelamin perempuan. Begitu juga prediksi dokter kandungan. Tapi saat keluar, ternyata uzi berbelalai panjang, kalo berjalan prok-prok-prok. Jadi mau gak mau, Uzi harus menghabiskan masa bayinya dengan atribut-atribut bayi yang berwarna feminin. Bayangin aja, alat kelamin jantannya itu harus dilapisi pernel berwarna ungu bahkan pink, lalu tidur diatas ranjang bayi berwarna merah muda. Kasian.. Beruntung saat Uzi lahir Tuhan nggak menganugerahinya kemampuan untuk protes dan marah. Bisa-bisa begitu Uzi keluar dan melihat atribut-atribut bayinya berwarna feminin dia marah “Apa-apaan ini mah?!! Kenapa warnanya kayak gini semua?!!” lalu Uzi lompat dari ranjang dan memaksa masuk lagi ke dalam rahim ibunya (Eh ibu saya juga).

Bisa menyerahkan mimpi terpendam orang tua ke adik. Belibet ya kalimatnya? Jadi gini, kalo misalnya dulu orang tua saya punya mimpi untuk jadi seorang presiden Zimbabwe dan mimpi itu gagal tercapai, biasanya orang tua menginginkan anaknya lah yang mewujudkan mimpi itu. Egois ya? Tapi kalo itu emang terjadi, karena saya anak pertama, saya bisa menolaknya dan berargumen “Aduh mah, pa, aku kan punya mimpi sendiri. Gimana kalo Uzi aja yang jadi presiden Zimbabwe?’. Karena Uzi pun punya adik lagi, dia bisa menolak dan menggunakan kalimat yang sama tadi. Tapi untuk adik baru saya, dia nggak bisa menjawab begitu. Mungkin dia akan menjawabnya dengan “Aduh mah, pa, aku kan punya mimpi sendiri. Bikin anak lagi aja sana ah!” hingga adik-adik saya bertebaran dan berhenti ketika ada yang mau jadi presiden Zimbabwe.

Bisa mengikuti pertumbuhan adik. Inilah momen yang menyenangkan. Apalagi ketika adik memasuki masa balita. Itu adalah saat dia lagi lucu-lucunya. Tapi akan ada saatnya ketika kelakuannya bikin kesel banget, sampe-sampe terlintas kenginan untuk nyubit pipinya pake tang lalu mandiin dia pake lumpur lapindo.

Memberi nama buat adik. Ini untungnya punya jarak umur yang jauh sama adik, saya bisa berpartisipasi dalam menentukan nama buat dia. Berbekal koneksi internet, buku dari Gramedia dan Al Qur’an, saya mengajukan nama “UFAIRA NUR FATHIYA”, yang kemudian di-ACC sama orang tua saya. Keren ya namanya? Apalagi kalo udah tau artinya itu adalah “Wanita pemberani yang memancarkan cahaya kemenangan”. Keren..

Pemutusan nama itu telah memakan waktu yang panjang. Kenapa “Ufaira”? Karena artinya 'pemberani', saya pengin walau pun dia anak bungsu (yang kesannya biasanya manja) dia harus berani, berani untuk bermimpi dan berani mewujudkan mimpi dia. Ih, keren ya Kakaknya? Lalu kenapa “Nur”? Simple aja, karena kalo “kenur” itu buat main layang-layang. Dan kenapa “Fathiya”? Karena saya ingin ada keterikatan antara saya dan adik-adik saya dari namanya. Kalo saya dan Uzi nama panjangnya “Fathurrohman”, saya ingin adik baru saya juga ada kata “Fath”-nya. Fath itu artinya kemenangan, jadi kita akan memenangkan misi kita masing-masing. We are Fath’s family!

Sebelumnya sempat terpikir sih ngasih nama yang nggak mainstream. Kalo kebanyakan nama anak-anak sekarang itu kan hasil titik temu dari modern dan agama, saya pengin ngasih nama yang jadul. Soalnya sekarang kan hal yang jadul malah jadi trend lagi, kayak skinny jeans, kacamata ber-frame gede dll. Jadi sempet terpikir untuk ngasih nama.. Zaenab, Ningsih, Sukaesih, kayak gitu-gitu deh! Tapi kasian. Gak jadi.

Dan kelahiran Ufa inilah yang bikin saya sering bolak-balik Depok-Sumedang. Gimana gak pengen balik coba, makin gede dia makin ngegemesin gini:


Ufa Dari Waktu ke Waktu
Beberapa minggu setelah lahir ke bumi.
± 1 bulan.
> 2 bulan.
Ufa dan Ekspresinya
Ketika mimpi buruk, mimpi dimandiin lumpur lapindo sama kakaknya.

Ini ekspresi saat liat muka saya pas lagi botak.

"What's up Bro?"
"Hmm.. Aku mau jadi wanita hebat!"
"Aaaaak mandinya gamau pake air kenciiiing!"
"Nah gini dong, kan enak"
"Hallo!"
~Kelahiran Ufaira Nur Fathiya adalah kebahagian~