Tampilkan postingan dengan label standup comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label standup comedy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2015

Review Comic 8: Casino Kings Part 1

Bagus atau nggak sih membaca review orang sebelum menulis review sendiri?

Sebenarnya gue gak butuh jawaban untuk pertanyaaan itu sih, karena gue udah melakukannya, dan menurut gue sah-sah aja. Malah ada banyak hal-hal yang sebelumnya gue gak tau atau mungkin gak terpikirkan sekarang menjadi hal yang gue perhatikan. Kalaupun nantinya review gue ada pengaruh dari review orang lain, ya anggap saja gue turut mengamini apa yang dikatakan orang itu. Toh ada juga bagian dari review orang yang gue gak setuju. So, this is my review about a comedy movie that act by most of Indonesian comics, Comic 8: Casino Kings Part 1!


Film pertama pecah banget—ya, pecah yang artinya keren atau lucu bukan pecah berarti membeli. Begitu lucu dan mengagetkan. Bagi gue yang suka sama Stand-Up Comedy kehadiran para comic dalam sebuah film adalah hal yang menyenangkan, seolah melihat bit-bit mereka lengkap dengan persona dalam karakter yang diperankan dan tetap dengan ciri khas mereka namun dalam satu kesatuan cerita yang berdurasi cukup lama. Karena itu main characters yang dipegang 8 comic masing-masing punya karakter bervariatif dan hal itu yang gue rasa digali oleh Anggy dan Fajar Umbara dalam tiap adegan di filmnya. Babe, Arie dan Ernest yang menurut gue paling menonjol di film pertama—walaupun kenyataannya Nikita-lah yang termenonjol, tapi bukan itu yang gue maksud. Sementara yang lainnya biasa aja kecuali Mongol dan Mudi, agaknya harus ada perbaikan untuk karakter mereka kedepannya.

Di sekuelnya, Anggy membawa pasukan comic lebih banyak, diikuti misi dalam ceritanya yang juga lebih besar dengan set artistik yang edan-edanan. Jangan lupakan juga, kali ini action-nya lebih gila, gak lagi sekedar tembak-tembakan tapi.. cubit-cubitan. Nggak deh, kali ini aksi mereka melibatkan beberapa mobil mewah, helikopter dan buaya! Yang merupakan spesial creature feature buaya animatronics, itu cukup membuat penonton tetap fokus terhadap alur cerita bukan malah memperdebatkan “Itu harimau atau kucing garong sih?” atau “Wah elang bisa dijadiin gojek nih!”, emang sinetron?! Ditambah juga penerapan efek visual dan CGI yang cukup efektif.


Dibanding film pertamanya, ada sedikit perubahan dalam line-up comics. Selain menambah lebih banyak comic, Anggy menarik keluar Mudi dan memasukan Ge Pamungkas. Melihat karakter Mudi yang selau membawa gitar, agak sulit memang memaksimalkannya karena mengharuskan ada adegan bernyanyi tiap kali berdialog. Sementara Ge jauh lebih mudah dikembangkan dan potensial, termasuk karena bakat aktingnya yang terus diasah di The East Net dan filmnya yang lain Negeri Van Oranje. Hasilnya beberapa scene yang Ge lakukan berakhir mulus diantaranya saat beradu akting dengan Dea Ananda, saat ditugaskan Indro warkop masuk sebagai agent dan ketika dia dan Mongol berusaha menjawab sebuah pop quiz di tengah hutan. Karakter Mongol juga berubah, kini dia gak kebencongan lagi tapi berdialek Batak, ini jauh lebih baik sih.

Mayoritas yang udah nonton, gue yakin sepakat bahwa bagian awal film adalah yang terlucu. Sebuah koper besar di tengah hutan yang perlahan terbuka mengawali film ini, lalu keluarlah Babe yang ternyata terdampar di sana bersamaan dengan semua comic yang terlibat. Adegan-adegan konyol cara mereka menghindar dari buaya emang kurang ajar sih, orang waras mana yang memilih cara menari ular india untuk mengusir kawanan buaya sambil bilang “Jangan bunuh aku, aku ini juga reptil kok”?! Di scene awal ini puchline datang begitu bertubi-tubi, ibarat materi stand-up, bit awal adalah yang terlucu atau kedua terlucu agar menarik perhatian audience sehingga tertarik mengikuti  kelanjutannya. Di film ini pun begitu.


Entah gue doang atau nggak, saat comic-comic selain yang delapan itu mati di awal scene lalu mikir “Lah udah mati lagi? Bentar doang akting Asep Suaji di film ini”. Tapi ternyata kita memulai film ini dari tengah, maju kemudian flashback dan bersambung lagi dengan scene penghubung yaitu koper gede di tengah hutan. Kalau ditanya soal karakter comic lain, gue agak bingung sih karena gue gak bisa lihat jelas, bisa jadi karena kebanyakan karakter. Awwe misalnya, dari penampilannya dia terlihat nerd dengan memakai suspender tapi gak kelihatan fungsinya untuk apa. Jangankan comic, pemain lain pun (termasuk cameo) ada banyak. Banget. Terlepas dari itu mereka tetap menghibur kok, terutama yang keren adalah The Bataks! Suka banget gue sama mereka!


Dari sisi komedi memang jokes-nya on-and-off. Ya komedi itu subjektif, gak bisa kita menghibur semua orang secara keseluruhan. Tapi dengan jajaran comic yang materinya cukup sering gue dengar, ada beberapa jokes yang seharusnya tidak ada di film yang seniat ini. Lalu yang gue sayangkan adalah sentilan politik dan sosialnya, gue turut mengamini Bapak Hans di Jakarta Post yang bilang kalo satirnya terlalu tumpul. Kayak bagian Ernest yang bilang “Kalo mau liat kriminal pergi aja ke Senayan”, hmm...  Ada juga scene yang menampilkan seorang gay (diperankan Isman) yang ingin diakui teman-temannya tapi sayangnya gak ada kelanjutannya. Padahal di film pertama sindirannya cukup pas, lho.


Lalu yang jadi pertanyan banyak penonton sehabis filmnya selesai adalah “Kok dibikin 2 part sih?” Iya, sayang banget ya, jadinya kayak ada kesan ‘buat ngepasin durasi' gitu gak sih? Tapi bagaimana pun juga, Comic 8: Casino Kings Part 1 secara visual mengagumkan dengan set yang begitu mewah, sangat menghibur di scene pembuka, misinya cukup seru untuk diikuti dan teaser yang ditayangkan untuk Part 2 cukup membuat kita layak bersabar hingga Februari tahun depan. Harapan gue Cuma satu, semoga nasibnya gak kayak Komunitas StandUp Indo Malang di Liga Komunitas KompasTV. Hehe.

Sabtu, 13 Juni 2015

HAPPINEST Jakarta: Sebuah Kesenangan

Dari dulu keinginan gue menulis review pertunjukan stand-up selalu berakhir wacana, maka kali ini akan menjadi tulisan pertama—dan semoga selanjutnya, karena gue teramat suka dengan seni ‘komedi tunggal’ ini.

Hal yang selalu membuat gue gak mau ketinggalan special-nya Ernest adalah karena dia selalu menghadirkan ‘kebaruan’ dalam setiap special-nya. Setelah Merem Melek menjadi tour pertama di Indoensia, Illucinati (Finale) digelar 3 kali dalam sehari dan kali ini HAPPINEST terasa begitu menyenangkan dengan venue menarik juga megah yang mana stage-nya bundar dengan dikelilingi 360⁰ oleh bangku penonton—seperti saat StandUp Festival lalu.

Hasil jepretan @piokharisma
Kalau Ernest sebagai performer bilang ketagihan dengan stage seperti itu, pun gue sebagai penonton, gue sarankan penggelar event-event standup comedy harus mempertimbangkan hal ini karena bagi gue stage bundar membuat comic makin terlihat sebagai pusat acara. Konsep performer di depan—yang hanya berhadapan satu arah dengan penonton cukup di kuliah, seminar atau sholat jumat saja lah ya. Tapi dengar-dengar konsep sholat jum’at di Mekkah sudah menerapkan hal serupa, ya?

Tapi yang paling membuat senang adalah pemilihan opener. Bukan hal baru Ernest ngasih kesempatan untuk nama-nama baru di dunia stand-up, masih ingat saat pertama kali lihat Barry di The Oriental Bandits—yang kini jadi Finalis SUCI season 5, tapi udah close mic juga sih. Setiap opener yang perform menghadirkan rasa penasaran dengan alasan yang berbeda-beda.

Sialnya, gue sedikit melewatkan karena gak lihat Soleh Solihun membuka acara dengan berdo’a, pasti kocak parah itu. Gue dan yang hadir malam itu pasti setuju kalau sepanjang acara kita dibuat tertawa bahkan saat jeda antar comic, jelas, karena saat itu ada suara dua kunyuk/MC tak terlihat/voice over Arie Keriting dan Ge Pamungkas, brengsek kelakuan mereka emang.

“Kita disuruh jadi MC, tapi ngumpet biar sok-sok misterius gitu. Eh tapi ini lighting kenapa nyorot kita. Woy panitia, kalian ngerti konsep misterius gak sih?!” Arie ngedumel dengan dialek khas timur yang bikin seluruh Balai Sarbini ketawa sambil nyari-nyari keberadaan dia—untungnya dimudahkan dengan bentuk rambutnya. Sementara Ge jadi komentator paling dibenci oleh penonton yang mau keluar ruangan selagi break, semuanya habis dia impersonating.

Opener demi opener saling bergantian mengocok perut yang hadir malam itu.

Sakdiyah Ma'ruf
Hasil jepretan @piokharisma
Gue agak lupa penampilan dia di SUCI season 1 seperti apa, tapi akhir-akhir ini sering gue dengar dia tampil di event luar negeri. Dan di HAPPINEST kemarin gue merasa dikagetkan, bisa-bisanya dia tau keresahan pria-pria Indonesia yang memiliki pipiw berukuran seadanya dan betapa bahagianya dia saat melakukan full body search di airport.. “Ya Allah kalau saya gak inget astagfirullah.. Yes! Free Sex! Seks gratis!”. Siapa yang mengira bit-bit itu keluar dari wanita yang kebanyakan ibu-ibu mungkin akan memintanya “Curhat dong, Mah!”. Walaupun ada punchline yang agak meleset, gue tetap akan menyebut nama dia paling awal kalau sedang membicarakan comic wanita di Indonesia.

Chevrina Anayang
Hasil jepretan @piokharisma
Nah ini nih paling bikin gue penasaran, banget. Entah kenapa gue yakin banget kalau Chevrina akan ngomong se-‘telanjang’ Kamga di WANA, dan itu terbukti. Memulai dengan cerita sedihnya saat menjadi vokalis cewek di grup Tangga yang sampai akhir perjalanan grup tersebut pamornya selalu kalah dari Kamga, lalu diperparah dengan anggapan bahwa Tangga hanya memiliki satu buah lagu yaitu Hebat, seisi Balai Sarbini sangat siap melahap bit-bit berikutnya dari Chevrina. Diva Indonesia yang karirnya sudah meredup pun habis dia roasting, ini sangat mengingatkan gue sama Kamga. Haha!

Selebihnya gue takut kena blokir Menkominfo kalau gue tuliskan semua di sini, jadi biar gue ingat saja ya (mati penasaran lo yang gak dateng!). Overall gue kagum parah sama materinya Chevrina, bridging yang sempurna, analogi ‘es teh manis’ yang keparat—gue yakin ini paling diingat penonton saat keluar venue, korban yang variatif (tiap jokes harus selalu memakan korban dan materi Chevrina korbannya banyak; dia, grup-nya, dia & Kamga, artis lain, orang lain, bahkan Ibu-ibu dan pasangan tentang bagaiamana mersepon materi yang sudah dia lempar—jenius) dan closing yang pas, klimaks banget! Setelah closing, gue berdiri, tepuk tangan adalah mewakili rasa kagum gue, sambil mikir “Dia harus banget tampil standup LAGI!”

Sacha Stevenson
Hasil jepretan @piokharisma
Sementara Sacha bikin gue penasaran melihat Indonesia dari sudut pandang dia dan tanpa disadari bit-bit dia mengingatkan kita dengan lembut, seperti saat dia bahas budaya ‘tangan kanan adalah tangan sopan’, menurutnya gak adil ketika dia meminta maaf karena terpaksa memberi uang dengan tangan kiri sementara tukang tempe hanya bilang terima kasih tanpa minta maaf.. “Padahal dia bikin tempenya kan pake kaki! Tapi yaudahlah, budaya itu gak harus masuk akal, jalanin aja” keren, dia mengenal Indonesia sampai ke tahap proses pembuatan tempe. Set-up dia memang relatif panjang sih, tapi punchline-nya juga selalu berlipat dan lipatannya itu yang selalu gak ketebak dan menghasilkan ketawa kenceng, seperti bit dia yang berpendapat kalau Indonesia itu negara yang santai, termasuk orang-orangnya..

“Dang ada proyek nih, mau ikut ga?”
“Saya mah santai, Sa”
“Yaudah tanggal 13-15 bisa?”
“Ya sa, santai saya mah”
“Kalo begitu lo minta berapa kalo 3 hari itu?
“Wah, saya mah santai sa”
“Nah ini namanya terlalu santai, soalnya aku gatau ini orang mau apa nggak sih, kalo mau ya mau, kalo gak mau bilang insya Allah!”

Gue ketawa sambil mengepalkan tangan, gemes gila! Menonton Sacha itu unik dan menarik.

Ardit Erwandha
Hasil jepretan @piokharisma
Sekilas gue lihat Ardit itu di Liga Komunitas saat mewakili StandUpIndo Samarinda. Sedikit gak menyangka kalau dia yang dipercaya jadi opener Ernest di tour ketiganya meneruskan tongkat estafet dari Ge dan Arie, makanya gue gak banyak berekspektasi terhadap dia. Tapi malam itu di HAPPINEST dia tampil begitu ‘usil’, bit Duo Srigala sebagai pembuka meyakini gue kalau dia banyak berkembang selama perjalanan tour. Walau baru kali ini opener tetap Ernest bukan alumus SUCI, tapi Ardit membuktikan dirinya layak.

Lalu bagaimana Sang Empu pemilik acara?
Ernest Prakasa
Hasil jepretan @piokharisma
Beda halnya dengan Illucinati lalu, kali ini materi yang dibawakan relatif ringan seperti keresahan tentang keluarga dan kesehariannya, kalau mau dibuat lebih spesifik lagi terdiri dari 3T: tai, tetek dan titit. Seperti biasa, salah satu yang gue kagum dari Ernest adalah cara dia men-delivery setiap bit-nya, begitu cair berasa gue aja yang lagi diajak ngobrol. Hal itu terlihat semakin membuat mudah menghasilkan tawa penonton bahkan sejak premis dilempar. Di tengah perform-nya, ada part dimana Ernest berinteraksi dengan beberapa penonton, entah karena kebutuhan sponsor atau memang disengaja yang jelas hal itu memeberikan kesan yang lebih intim, walaupun diakuinya setelah itu ada materi yang tertinggal.

Acara ditutup dengan epic oleh bit tentang Sky yang di suatu saat meminta izin untuk main ke rumah temennya, gak ada yang aneh memang tapi tahu gak apa yang Sky bilang setelahnya? "Samlekuum.." seluruh Balai Sarbini bergemuruh oleh tawa. Malam yang begitu menyenangkan,

Manyenangkan karena banyak kajutan.
Manyenangkan karena venue unik nan megah.
Manyenangkan karena dikemas dengan teramat menarik.

Terima kasih telah berbagi kesenangan, Koh!

Rabu, 06 Agustus 2014

Bajaj Bajuri The Movie: Modernisasi dari Sitkom


Bajaj Bajuri adalah salah satu sitkom yang melekat di ingatan gue. Bagaimana Mat Solar, Rieke Diah, Nani Widjaya dan Fanny Fadillah menjadi pemeran sentral sebagai Bajuri, Oneng, Emak dan Ucup. Begitu di Bajaj Bajuri The Movie keempatnya akan digantikan oleh pemain yang beda, gue tau apa yang dipikirkan sang sutradara Fajar Nugros, bukan karena takut Rieke Diah nekat memakai kemaja kotak-kotak, tapi dia ingin menghadirkan sesuatu yang fresh di film layar lebarnya.

Gue rasa penonton membutuhkan itu dan hasilnya pun keren! Sama sekali gak gue lihat penonton yang mempermasalahkan pergantian pemeran itu saat keluar bioskop. Ricky Harun, Eriska Rein, Meriam Bellina dan Acho melakukan tugasnya dengan baik. Ricky Harun yang jauh lebih muda dari Mat Solar sudah sangat terbiasa bermain di film drama komedi. Eriska terlihat lebih 'bodoh' dari Oneng di sitcom-nya dan Meriam Bellina (sudah jelas) lebih galak. Terkhusus Acho, salah satu komika yang selalu gue tunggu perform-nya, dia jauh lebih nyolot dari Fanny Fadillah, gue inget di salah satu scene dia bilang "Ini duit lima ratus juta! Kalo dipake sekeluarga lo cebok di wc umum, berdarah lo!". Karakter mereka yang kuat dan konsisten lah yang membuat setiap punchline pecah bahkan tawa yang dihasilkan keras.

Cerita dimulai dari Bajuri yang memegang uang sebanyak 500 juta rupiah dari hasil menjual tanah warisan ayahnya. Gue catat ada 3 masalah yang terjadi. Pertama, Oneng yang marah terhadap Bajuri karena terpengaruh sama tuduhan Emak kalau Bajuri ingin kawin lagi, padahal niat Bajuri akan membelikan Oneng sebuah rumah. Kedua, munculnya para perampok yang ingin mencuri uangnya, Nova Eliza dengan dua anak buahnya McDanny dan Radhika. Ketiga, Bajuri dicurigai kepolisian sebagai teroris karena bom ikan rakitan Soleh dan Sahili yang tertinggal ditasnya saat mengambil uang di Bank.

Ketiga masalah tersebut berjalan bersamaan, namun gue sedikit kurang nyaman sama beberapa bridging antar scene yang terlalu memaksakan. Tapi bagaimana pun juga, nama Raymond Lee dan Chairul Rijal gue masukan ke list penulis skenario yang gue tunggu film berikutnya. Skenerio filmnya sangat detail, gak gampang membuat adegan komedi dengan double bahkan triple punchline. Seperti adegan Bajuri yang bikin pedagang-kerupuk-sepeda tercebur dua kali ke selokan dan pengacara yang susah keluar mobil karena parkir mobil-mobil didekatnya yang terlalu mepet.

Menariknya ada beberapa tokoh yang gak gue sangka ikut bermain di film ini, Gofar Hilman, Adit dan Surya Insomnia. Beberapa pemain di film ini berasal dari stand-up comedy, walaupun porsinya gak sebesar Acho, tapi Soleh Solihun, McDanny, Radhika, Arief Didu dan Awwe meneruskan citra baik komika di film komedi Indonesia setelah munculnya Comic 8.

Jika di Comic 8, yang menyegarkan mata cowok adalah Nirina Zubir dan Nikita Mirzani, di Bajaj Bajuri The Movie ada Nova Eliza dan Rebecca Reijman. Keduanya terlihat.. segar!

Bajaj Bajuri The Movie mempertontonkan hal yang dekat dengan keseharian kita. Bagaimana seorang yang tadinya biasa aja mendadak punya uang banyak berkat menjual tanah, lalu seketika orang-orang di sekitarnya tiba-tiba bertingkah baik, sangat baik malah.
Berhati-hatilah bukan pada mereka yang membencimu, tapi berhati-hatilah pada mereka yang sangat baik di depanmu.
Karena memang biasanya orang yang mendadak baik itu.. ada maunya.

Terakhir, gue mengucapkan selamat untuk sutradara, penulis skenario, pemain dan semua yang terlibat di film ini. Bajaj Bajuri The Movie sukses dengan sangat pecah menjadi hiburan selepas lebaran.

By the way, apresiasi gue ini bukan karena gue ada maunya ya.



Sabtu, 12 April 2014

Perjalanan

(Tulisan ini bekas ikutan lomba blog #BersamaGaruda-nya @Pandji, tapi gak menang, haha)

Masih inget dulu saat gue kecil, keluarga gue lumayan sering menggunakan kendaraan umum (terutama angkot) untuk berpergian. Entah itu pergi ke kota atau sekedar berkunjung ke rumah saudara. Tapi sebelum masuk SMP, gue lebih sering memanfaatkan ojek daripada angkot, bukan karena naek angkot harus punya ijazah SD tapi gue belum berani aja. Masuk SMP gue baru membiasakan diri naik angkot sendirian, pergi dan pulang sekolah naik kendaraan umum tersebut. Ojek dan angkot udah terbiasa, giliran bis umum yang gue jajal ketika gue SMA. Sumedang menuju Bandung, bis Damri pernah menemani gue. Sampai akhirnya di 2012 gue merasakan juga transportasi udara yang dirasa semua orang paling efektif, pesawat terbang.

Gambar, hasil nyari di Google.

Dari waktu ke waktu, selalu ada peningkatan dalam transportasi yang gue gunakan. Hal yang sama gue temui juga di karya stand-up comedy seorang Pandji Pragiwaksono. Orang Indonesia pertama yang membuat special show bertajuk Bhinneka Tunggal Tawa pada tahun 2011, setahun kemudian keliling Indonesia dalam tur Merdeka Dalam Bercanda, dan terakhir yang paling mengundang kekaguman adalah tur Mesakke Bangsaku, nggak berhenti sampai di sana, pertengahan tahun ini Pandji akan membawa Mesakke Bangsaku-nya dalam 'world tour' ke hadapan WNI di beberapa negara Eropa, Asia dan Australia. Keren, selalu one step ahead.

Miliki target, capailah dan buat target baru. Jangan pernah merasa sampai! — Pandji Pragiwaksono

Ah, terlalu banyak kekaguman gue terhadap cara Pandji berkarya, bahkan kalo tulisan di blog gue ini sedikit kritis dan berbau Indonesia, itu ada pengaruh Pandji di dalamnya.

Kembali ke soal pengalaman pertama gue naik pesawat, kesempatan itu datang dari ajakan tante gue dan beberapa sepupu yang ikut untuk berlibur ke Singapura. Harapan gue sih waktu itu bisa terbang dengan Garuda Indonesia. Alasannya karena Garuda Indonesia selalu memberikan pelayanan yang memuaskan mulai dari saat melakukan reservasi penerbangan, tiba di bandara, menunggu keberangkatan, berada dalam pesawat, hingga setelah melakukan penerbanganBahkan kalo terjadi keterlambatan pun (sayangnya itu jarang terjadi), pemberian makanan yang dilakukan tujuannya memang murni untuk mengganti ketidaknyamanan penumpang, bukan untuk mengalihkan isu dengan memberi makanan yang kurang enak. Dan gue juga gak mau kalah dong sama para pemain Liverpool FC ini:

Gambar, diambil dari sini.

Berperingkat 7 dunia sebagai maskapai penerbangan terbaik dan baru saja mendapat 'World's Best Economy Class 2013', gak heran kalo banyak yang memprioritaskan Garuda Indonesia untuk terbang ke berbagai destinasi. Kenyamanan akan lo dapatkan saat duduk di dalam pesawat, jarak dengan kursi depan yang cukup luas dan monitor yang ada di depan lo akan membuat perjalanan terasa singkat, karena lo bisa nonton film, sekedar dengerin musik, melihat animasi petunjuk keselamatan dan mengetahui informasi penerbangan. Nggak hanya fasilitas in flight entertainment, penumpang juga dimanjakan dengan makanan yang terbilang enak, lengkap, dan Indonesia banget.


Garuda Indonesia gak hanya memberikan kenyamanan saat terbang tapi juga kebanggaan. Menjadi maskapai penerbangan terkemuka di dunia dengan mengangkat citra Indonesia itu visi mereka. Buktinya terlihat dari konsep pelayanannya, ketika masuk pesawat akan tercium keharuman aromatis khas Indonesia, terdengar musik tradisional Indonesia yang unik, dan terlihat seragam para awak kabin dengan motif batik, kurang Indonesia gimana coba. Orang Indonesia itu dikenal dengan keramahannya, dan keramahtamahan itulah yang ingin Garuda Indonesia kembalikan seiring dengan memudarnya karakter tersebut. Keren..



Turun di Bandara Changi, Singapura itu adalah pijakan pertama gue di negara orang. Menginap gak jauh dari Orchad Road membuat gue ketagihan keluyuran di sepanjang jalan itu.


Universal Studio adalah tujuan pertama kita, dan jelas, setelah dari sana gue gak mungkin pulang dengan tanpa foto di sini:

Harusnya sebelum berangkat gue potong rambut dulu.

Sepulang dari Singapura gue jadi punya wawasan tentang negara lain. Dan semoga wawasan itu bertambah setelah dapat kesempatan dari Garuda Indonesia dan Pandji (ceritanya ini menjilat) hehe. Sebagai orang yang pertama kali pergi ke Singapura, tentunya gue akan pulang dengan foto berikut ini:

Jangan lupa posenya yang seperti ini, atau sejenisnya.

Sama halnya dengan Garuda Indonesia, gue rasa Pandji pun selalu mencari titik temu antara idealis dan komersil dalam berkarya. Penekanan karya dia lebih ke daleman dibanding luaran. Kalo gue diberi pertanyaan "Apa hal yang sama dari Pandji dan Garuda Indonesia", cukup gue jawab dengan satu kata: Indonesia. Mungkin itu juga yang melatarbelakangi garuda Indonesia untuk mensponsori world tour-nya Pandji. World tour yang bakal dilakukan Pandji sebenarnya mulai tercium sejak Nusantawa di Sydney beberapa waktu lalu, entah kenapa gue merasa kuis twitter @Pandji yang gue menangkan sebelumnya, ada hubungannya dengan Nusantawa ini.

Gue bersyukur orang-orang yang menghidupkan stand-up comedy Indonesia adalah mereka yang concern terhadap politik, Pandji, Ernest, Adriano, Sammy, Pangeran, karena mereka, gue yang semulanya apatis tergerak untuk lebih peduli sama politik, lebih peka terhadap kejadian-kejadian di sekitar, terbuka dan provokatif proaktif.

Kamis, 06 Februari 2014

Arena Baru Komika: Comic 8

Baiklah. Pertama kalinya di blog ini gue menulis sebuah review film. Pola penulisannya gimana sih?

Ah bebasin aja ya, karena yang pertama akan selalu gak sempurna, semoga kedepannya agak mendingan.

Oke deh, kita mulai..


Comic 8. Dari judulnya jelas banget, kalo pemeran utama di film ini adalah 8 orang komika; Mongol, Mudy, Ernest, Kemal, Arie, Babe, Bintang dan Fico (dengan catatan fico cukup dihitung satu). Ekspektasi gue terhadap film ini akan ada bit-bit standup yang diselipkan. Dan itu terbukti bahkan sejak awal film. Ketika ke-8 komika yang berperan sebagai perampok bank menyandera Indro, Nirina dan Pandji, lalu masing-masing dari mereka menyampaikan permintaannya dalam bentuk oneliner (joke yang terdiri dari satu/dua kalimat).


Ernest - “Saya minta kantor DPR dipindahkan ke Mangga Dua! Dan satu lagi, kalo bisa mangganya ditambah satu. Dari dulu dua mulu.”

Layaknya dalam standup comedy, opening film ini dibuat lucu. Walaupun gue kebingungan mencocokkan adegan pembuka ini dengan keseluruhan cerita dan di adegan selanjutnya ternyata bit yang sama diulang lagi, karena gue udah tau jadi gak ketawa sekencang di awal. Sayang banget. Tapi first impression film ini bikin gue yakin kelanjutan ceritanya akan lebih kocak.

Gue gak akan ngomongin jalan ceritanya, mending tonton aja ya!

Pemilihan pemainnya terbilang tepat. Kedelapannya punya ciri khas yang berbeda-beda dan itulah yang bikin kocak. Terutama Babe dengan goyang striptisnya dan Arie dengan logat timurnya. Gue ketawa kenceng pas adegan Babe ngaku-ngaku jadi pengisi acara sambil joget-joget di pohon dan ketika Arie mau nembak Candil tapi gak jadi-jadi. Anjing, itu ngehek banget!

Standup itu identik dengan keresahan dan di film ini pun gue menemukan itu. Kritik sosial, sindiran disisipkan dengan jeli. Gue pengen tepuk tangan saat Arie Kriting menyinggung koruptor. Keren banget. Lalu ketika Nirina Zubir memarahi Boy William yang nyerocos ngomong pake bahas inggris, padahal lagi di Indonesia. Itu relate banget sama kehidupan sehari-hari. Sambil mengikuti jalan filmnya, gue tertawa dan mikir secara bersamaan. Ternyata memang itu niat dari sang sutradara Anggy Umbara, cerita filmnya tentang perampokan, sama halnya negera ini, kita sedang dirampok tapi sebenarnya “siapa yang merampok kita?!” Relate banget sih sama filmnya. Jadi meskipun katanya dua film terdahulu Anggy itu kurang bagus, dengan hadirnya Comic 8 ini, gue akan tunggu film-film Anggy berikutnya!

Yang jangan dilupakan adalah penulis ceritanya. Story line  memang Anggy yang buat. Tapi cerita dari adegan ke adegan berikutnya sang kakak, Fajar Umbara lah perannya. Setau gue Fajar ini ngikutin perkembangan standup comedy. Salut lah, dia bisa menonjolkan kelebihan dari tiap komika jadi sebuah film yang gokil. Eh, ngomong-ngomong soal ‘menonjol’, gue jadi inget ini:


Susah kayaknya mereview comic 8 dengan tanpa membahas dia. Pas adegan tembak-tembakan dadanya ikutan bergetar. Tapi kehadiran Nikita Mirzani dan Kiki Fatmala itu bagus sih menurut gue. Biar sutradara lokal yang biasa bikin film horor-semi-porno itu liat kalo toket itu bisa masuk di film berkualitas juga.

Jelas, kemunculan cameo kayak Kiki Fatmala, Nirina Zubir, Ence Bagus, Candil, Pandji, Cak Lontong, Agus Kuncoro, Joe P Procect, Laila Sari, Ge Pamungkas (kecuali Agung Hercules) itu sangat melengkapi, bukan hanya menghiasi poster film saja. Entah kenapa di film itu gue membandingkan antara Nikita Mirzani, Kiki Fatmala dan Nirina Zubir. Mungkin karena hanya mereka cewek yang terlibat. Dan Nirina Zubir terlihat cantik banget!


Intinya, Comic 8 adalah film komedi yang fresh. Kalo film Raditya Dika mungkin hanya memuat bagian kecil dari filmnya dengan unsur standup comedy. Kalo Comic 8 justru porosnya ada pada para comic. Dulu standup di Indonesia dianggap sebatas tren. Tapi gue liat sekarang berkat standup para komika mulai merambah ke arena lain, penyiar radio, presenter, pemain film. Kini, ini bukan lagi tren, bisa jadi alternatif hiburan ditengah acara TV yang gitu-gitu aja. Viva La Komtung!


Btw, sekulanya sudah keluar dan gue juga udah nulis reviewnya di sini.

Selasa, 21 Januari 2014

Dialog: Tentang Stand-up


Si Kepo: Fal , lo suka stand-up comedy ya?

Rifaldi: Suka? maksudnya menyukai atau melakukan nih?

Si Kepo: Emang ‘melakukan’ kata dasarnya suka ya? Nilai Bahasa Indonesia lo berapa sih?

Rifaldi: “Gue kalo pup, suka ngeden”, menurut lo ‘ngeden’ disana adalah hal yang dia sukai?

Si Kepo: Oke deh. Ganti! Fal, lo menyukai stand-up comedy ya?

Rifaldi: Ya.

Si Kepo: Kampret. Panjangin dikit lah jawaban lo!

Rifaldi: Yaa.

Si Kepo: Jayus lo! Alasan lo menyukai stand-up comedy apa?

Rifaldi: Gue butuh hiburan dan pengetahuan pada saat bersamaan.

Si Kepo: Oh, lo berasa jadi pinter gitu kalo udah nonton stand-up?

Rifaldi: Nonton stand-up bisa bikin gue ketawa (itu mah syaratnya komedi kan) sekaligus bikin gue mikir. Banyak materi komika yang diambil dari hal kecil yang biasanya sering kita abaikan. Dan respon akhir gue biasanya: “Anjir, bener juga ya”.

Si Kepo: Semua materi komika kayak gitu?

Rifaldi: Nggak lah, lo pikir semua penyanyi bawain lagu pop?

Si Kepo: Bisa kasih rekomendasi siapa komika yang harus gue tonton?

Rifaldi: Terserah elo. Lo pengen denger materi kayak gimana? Balik lagi ke orangnya.

Si Kepo: Menurut lo, orang kayak gue cocoknya dengerin materi kayak gimana?

Rifaldi: Nyet! Lo sama gue kan orangnya itu-itu juga, cuma lagi sok-sok-an dibikin dialog gini! Kalo lo pengen ketawa abis-abisan dengerin aja @bintangbete. Kalo mau sambil mengenal Indonesia: @Pandji. Ingin ngerasain jadi minoritas: @ernestprakasa. Ketawa sambil mengkritisi kebijakan pemerintah: @notaslimboy. Materi gak jelas, tapi lo bisa ketawa (dan diakhir lo mikir “kenapa gue ketawa ya”): @kemalpalevi. Ingin denger sesuatu yang gak munafik, apa adanya, bebas dan benar: @adrianoqalbi, @pangeransiahaan, @Kukuhya, @kamga_mo (WANA).

Si Kepo: Favorit elo siapa?

Rifaldi: Gue sih bakal berusaha buat dateng kalo ada gig mereka: WANA, Pandji Pragiwaksono, Sam D. Putra, Ryan Adriandhy, Rindra Dana.

Si Kepo: Lo pernah nyobain stand-up juga?

Rifaldi: Ah, lo pura-pura nggak tau. Buat gue stand-up itu media yang cocok untuk orang yang punya keresahan, uneg-uneg tentang apapun itu dan sekaligus menghibur orang (kalo lucu). Kalo nggak, ya nyakitin diri sendiri. 

Si Kepo: Oh. Okedeh. Udah ya.

Rifaldi: Anjir, closingnya gitu doang?!

Jumat, 20 September 2013

Nusantawa (a StandUp Show at Sydney)

Baru aja kemarin saya nulis tentang hadiah dari twitter yang salah satunya berasal dari standup comedian Indonesia, Pandji Pragiwaksono. Tepatnya 25 Januari 2013, Pandji lewat akun @WSYDNShop ngadain kuis, dengan pertanyaan seperti ini: